Cahaya yang Mulai Redup
Kemana perginya mereka, yang dulu orang tua kita bilang "kuku orang mati". Apa yang harus kita lakukan sekarang, ketika alam malam tidak lagi se-gemerlap dulu
Baca selengkapnyaTulisan
Laporan kegiatan, riset sejarah, dan catatan keilmuan yang ditulis anggota DIAZ.
18 artikel
Kemana perginya mereka, yang dulu orang tua kita bilang "kuku orang mati". Apa yang harus kita lakukan sekarang, ketika alam malam tidak lagi se-gemerlap dulu
Baca selengkapnyaSelama berproses di Diaz lahir gagasan untuk mengembangkan dua jenis kemampuan literasi di kalangan anggota Diaz: literasi tekstual melalui akses buku-buku, dan literasi pengalaman melalui kegiatan petualangan serta kunjungan lapangan melalui media fotografer. Dengan demikian, setiap anggota memiliki kelengkapan pemahaman terhadap lingkungan sekitar sebelum mengambil foto.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaArtikel ini membahas street feeding, yaitu praktik memberi makan hewan jalanan seperti kucing dan anjing liar, dari sisi empati sekaligus dampak jangka panjangnya terhadap populasi, ekosistem, dan penyebaran penyakit. Penulis menekankan bahwa niat baik perlu disertai pengetahuan dan tanggung jawab.
Baca selengkapnyaAnggota Diaz, Irwan, menyampaikan: “Salah satu fungsi dari diklat adalah saling mengingat materi sekaligus mengulik, menggagas ide untuk memperbaiki dan mengolah ingatan literasi yang terabaikan. Diklat juga menjadi alat membangun komunikasi kemanusiaan antar anggota; istilahnya adalah reuni tipis-tipis yang berkualitas.”
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaTim Elang Muda Adventure menyelenggarakan Survival Kids Part 2 di Coban Putri, Batu, pada 18 Oktober 2026, diikuti 12 anak berusia 5-10 tahun. Kegiatan edukatif ini melatih keberanian, pengendalian emosi, kerja sama, dan dasar bertahan hidup melalui tantangan terukur.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaArtikel mengenang Dodi Cahyo Suryono, caver perintis Malang yang berpulang pada 24 Agustus 2021, dan jasanya membina generasi penjelajah goa DIAZ melalui keteladanan serta peminjaman alat tanpa pamrih. Ia menerima status anggota kehormatan dari DIAZ.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaArtikel ini mengenang Urip Lakasana DKP, anggota DIAZ sejak 1990 yang pernah menjabat Ketua DIAZ pada 1993 dan meninggal dunia setelah dua tahun berjuang melawan penyakit. Ia dikenang atas dedikasi, kesetiaan, dan jasanya membawa bantuan JASMAS bagi organisasi.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaPenulis menceritakan perjalanan "Mlaku berkelanjutan" menuju Sabana Barotan Pujon dan pengalaman memeluk pohon besar berumur sekitar 55 tahun sebagai eksperimen personal untuk membuktikan manfaat forest bathing bagi suasana hati dan stres.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaArtikel ini membahas peringatan Golden Anniversary ke-50 OPA DIAZ Malang (1975–2025) beserta makna logo elang berisi 11 siluet aktivitas dan tema "Harmoni Jejak Emas". Logo serta palet warna bumi dirancang sebagai simbol ketangguhan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap alam.
Oleh Safira Afuza Adri
Baca selengkapnyaArtikel ini mengajak orang tua mendaftarkan anak-anak pada lanjutan pelatihan "Survival Kids" yang berfokus pada pengembangan kognitif, imajinasi, dan ketangguhan melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. Informasi pendaftaran tersedia melalui akun Instagram penyelenggara.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaOPA DIAZ bersama MAPALA ASPAL ITB Asia Malang dan HIMPAS Vigneçvara STIE Malangkuçeçwara menggelar kegiatan Bersih Masjid Gratis di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Malang, pada 4 Oktober 2026. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kemampuan dan semangat dari alam bebas dapat diwujudkan sebagai pengabdian kepada masyarakat.
Baca selengkapnyaElang Muda Adventure mengadakan pendampingan di Coban Putri, Batu, untuk anak usia 7-10 tahun guna memperkuat mental dan batin melalui permainan dan belajar di alam terbuka selama 4 jam. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para orang tua.
Oleh Khamim Mustofa
Baca selengkapnyaKarya ketiga trilogi Ibu Bumi oleh Tientus Sudarto ini menggambarkan sosok Ibu Bumi yang luruh sepenuhnya akibat perusakan dan kekeringan, namun masih menggerakkan tangannya sebagai permintaan agar keberadaannya diingat.
Oleh Redy Apriyadi
Baca selengkapnyaBagian kedua Trilogi Ibu Bumi karya Tientus Sudarto menggambarkan retakan yang mencapai dada Ibu Bumi, saat ia berhenti menyusui sebagai batas bahwa pemberian alam pun memiliki ujung. Karya charcoal dan noda kopi ini menjadi jawaban sunyi atas ratapan sebelumnya.
Oleh Redy Apriyadi
Baca selengkapnyaKarya terbaru Sahabat DIAZ Tientus Sudarto, "Ratapan Ibu", menggambarkan Ibu Bumi yang retak sebagai kritik atas kerusakan lingkungan. Lukisan dibuat dari arang kayu hasil pembalakan liar di Malang Selatan dan noda kopi, sehingga media itu sendiri menjadi bagian dari isu yang diangkat.
Oleh Redy Apriyadi
Baca selengkapnyaArtikel ini membahas invasi spesies asing (alien) yang diam-diam merusak ekosistem alam Indonesia, bukan melalui pesawat antariksa melainkan melalui flora dan fauna non-endemik yang masuk dan berkembang di luar habitat aslinya. Penulis mengajak pembaca memahami apa itu spesies invasif, asal-usulnya, dan langkah yang bisa dilakukan.
Baca selengkapnyaArtikel seri "Kisah Para Elang" dari blog DIAZ ini mengulas spesies-spesies elang dengan gaya bercerita yang tetap berlandaskan ilmiah, dibuka dengan pengantar tentang kehidupan purba dan reptil terbang Pteranodon. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para pengurus dan rekan organisasi yang mendukung penulisan.
Baca selengkapnyaArtikel ini menelusuri asal-usul nama DIAZ, organisasi pecinta alam di Malang, melalui riset sejarah yang menemukan beberapa teori berbeda, dengan salah satu teori dikaitkan pada penjelajah Portugis Bartholomeus Diaz. Tulisan ini juga membahas latar belakang pelayaran Eropa mencari jalur laut ke Hindia setelah jatuhnya Konstantinopel.
Baca selengkapnya