Lompat ke konten

Keilmuan

Cahaya yang Mulai Redup

Oleh 14 menit baca
cahaya yang mulai redup

Kemana perginya mereka, yang dulu orang tua kita bilang "kuku orang mati". Apa yang harus kita lakukan sekarang, ketika alam malam tidak lagi se-gemerlap dulu

PROLOG

Saya jadi ingat ketika saya masih menempuh pendidikan dasar pecinta alam di organisasi ini (DIKLATSAR DIAZ XXXII), ketika malam datang dan bivak sudah berdiri. Saya duduk didepan api bersama salah seorang rekan angkatan untuk menjaga rekan - rekan lainnya ketika datang pelatih. Hutan yang sunyi dan gelap, kami tidak tahu apa yang para pelatih rencanakan, tapi malam itu kami tetap waspada.

Lalu dari balik pepohonan, kami melihat secercah cahaya berkelap - kelip "itu headlamp" ujar rekan saya. Kami berdua-pun bergegas memperingatkan rekan - rekan lain jika pelatih akan segera datang. Tapi, peringatan kami segera dibantah oleh rekan kami yang lain setelah melihat cahaya itu "itu cuma kunang - kunang" katanya. Ternyata memang benar itu hanya kunang - kunang, dan karena keasyikan melihat api, kami jadi tidak menyadari bahwa sebenarnya disekeliling kami-pun banyak sekali kunang - kunang berterbangan. Mungkin rasa lelah dan moral yang sedang tertekan membuat kami tidak menyadari keindahan itu, tersisa rasa waspada yang ada di kepala kami.

Saya sendiri begitu gembira setelah mengetahui bahwa disekitar kami ternyata banyak kunang - kunang. Terakhir kali saya melihat mereka adalah ketika saya masih di umur 8 tahun yang waktu itu saya dan ibu selesai menunaikan sholat isya di mushola, dan itupun hanya 2 ekor saja. Tapi saat itu, saya melihat lebih banyak.

Kegembiraan itu saya rasakan karena sebelumnya saya menyadari bahwa jumlah mereka kian menurun. Ibu saya bercerita bahwa dimasa kecilnya, kunang - kunang amatlah banyak dan kerap dikumpulkan untuk mainan. Apalagi ketika saya mengatahui fakta yang dikemukakan oleh para ilmuan bahwa kita adalah generasi terakhir yang masih bisa melihat mereka. Maksud saya, saya bersyukur waktu itu karena masih bisa melihat mereka, namun sekaligus sedih karena bisa jadi saat itu adalah saat terakhir bagi saya. Oleh sebab itu, sekarang saya akan menikmati dan menghargai cahaya mereka bila ketika kapanpun saya melihatnya.

Mungkin anda juga merasakannya sekarang. Saat kecil, di tepi sawah, di pinggir sungai, atau di halaman rumah yang rimbun, malam tidak sepenuhnya gelap. Ribuan titik cahaya kecil berkedip pelan, bergerak naik turun seolah bintang-bintang turun menyentuh bumi. Kita mengejarnya, memandangnya kagum, dan merasa bahwa keajaiban itu akan selalu ada.

Namun coba tengok ke luar jendela malam ini. "Di mana mereka?"

Pemandangan yang dulu biasa kita lihat tanpa terkecuali, kini menjadi kenangan yang semakin sulit ditemukan. Kunang - kunang perlahan menghilang dari malam kita, bukan karena kehendak mereka, melainkan karena cara kita mengubah dunia tempat mereka hidup.

"Kunang-kunang bukan sekadar hiasan malam. Ia adalah cahaya yang memberi tahu kita bahwa alam di sini masih sehat. Ketika ia padam, berarti ada yang rusak di akarnya"

- Prof. Drh. Upik Kesumawati Hadi, Ahli Entomologi IPB University


KUNANG - KUNANG DAN KENAPA IA ISTIMEWA

Dulu, mungkin kita akan takut dengan kunang - kunang karena orang tua kita mengatakan bahwa mereka adalah jelmaan dari kuku orang yang sudah meninggal. Mitos ini semakin kuat terbenam di kepala kita waktu kecil, karena kemunculannya bisa dilihat memang ada di kuburan saat malam. Mungkin, memang begitulah cara orang tua kita mengajarkan kita untuk menghormati waktu, khususnya malam hari dimana sebaiknya kita belajar.

Kunang - kunang adalah nama atau sebutan umum untuk serangga kumbang bercahaya dari famili Lampyridae dari ordo Coleoptera. Nama Lampyridae sendiri diambil dari bahasa yunani "lampein" yang berarti "bersinar". Tercatat ada lebih dari 2000 spesies kunang - kunang di seluruh dunia kecuali Antartika. Meskipun tidak ada catatan resminya, sebagai negara dengan Megabiodiversias mungkin sebagian besar juga ada di Indonesia.

Kemampuan unik yang dimiliki kunang - kunang sehingga bercahaya adalah proses biologis yang disebut dengan bioluminesensi. Bioluminesensi pada kunang - kunang melibatkan reaksi kimia dari senyawa luciferin di dalam perutnya. Senyawa tersebut terbagi menjadi dua, yakni D-Luciferin dan L-Luciferin. Ketika D-Luciferin bereaksi dengan ATP (Adenosine Triphosphate) atau energi kemudian dikatalis (dipercepat reaksinya) oleh enzim luciferase, maka akan ada reaksi lanjutan dengan oksigen yang menghasilkan oxyluciferin. Reaksi dari oxyluciferin inilah yang akan bercahaya dan menjadikan perut kunang - kunang berpendar. Hal yang membuatnya istimewa adalah cahaya yang dihasilkan hampir tidak membuang panas seperti bola lampu di rumah kita.

rantai reaksi kimia luciferin pada kunang kunang - Sumber : pmc.ncbi.nlm.nih.gov

Bukan hiasan semata, cahayanya adalah bahasa komunikasi. Jantan mengedip dengan pola tertentu lalu betina yang tersembunyi di rumput membalas dengan kedipan yang khas. Saling mengenali, saling memanggil, saling menemukan di kegelapan malam. Tanpa cahaya itu, mereka tidak dapat berkembang biak. "cukup romantis ya untuk seekor kumbang".

Bahkan para ilmuan percaya bahwa, pendar cahaya yang dihasilkan kunang - kunang juga digunakan mereka untuk melindungi diri. Beberapa spesies kunang - kunang memiliki senyawa lucibufagin yang membuatnya tidak terasa enak apabila dimangsa predator, meskipun beberapa hewan seperti katak dan kodok serta tarsius nampak biasa saja saat memakannya. Senyawa defensif lucibufagin ini, memang tidak dimiliki oleh semua spesies kunang - kunang, beberapa diantara mereka mendapatkannya dengan memangsa spesies kunang - kunang yanng lain (yang memiliki lucibufagin). Jadi, pendaran cahaya jug sekaligus peringatan yang berkata "jangan makan aku, aku kunang - kunang yang tidak enak dimakan".

sekresi senyawa lucibufagin oleh kunang - kunang ketika merasa terancam - Sumber : Hak cipta © 1997 oleh Thomas Eisner dalam news.cornell.edu (Cornell University)

Lebih dari itu, alasan mengapa kunang - kunang sangat istimewa adalah perannya untuk kita, manusia dan alam :

  • Bioindikator kesehatan lingkungan — Kunang - kunang adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap polusi dan cemaran. Mereka sangat rentan dan toleransi yang rendah terhadap polusi. Larva kunang - kunang (terutama) sangat bergantung pada ekosistem dan lingkungan yang sehat. Sehingga, keberadaannya menandakan air bersih, tanah lembap tidak tercemar, udara yang segar. Jika ia hilang, berarti lingkungan sudah tidak sehat.

  • Pengendali hama alami — Para ahli sebenarnya masih tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dimakan spesies kunang - kunang ketika dewasa. Beberapa spesies diantara mereka memakan serbuk sari dan nektar, beberapa lagi memakan serangga lain termasuk spesies kunang - kunang lain, bahkan beberapa lagi diketahui tidak memakan apapun. Namun, para ahli yakin bahwa larva kunang - kunang adalah karnivora. Larva kunang-kunang memakan siput, keong, dan cacing yang sering menjadi hama pertanian. Sehingga, petani sebenarnya dibantu oleh mereka tanpa disadari.

Larva kunang - kunang adalah karnivora yang memakan hama pertanian - Sumber : pexels.com
  • Bagian dari rantai makanan — menjadi makanan dari hewan lain adalah kontribusi kunang - kunang dalam ekosistem. Meskipun sekresi lucibufagin membuat mereka tidak disukai sejumlah predator, kodok dan katak serta beberapa mamalia seperti tarsius terlihat tidak masalah dengan senyawa defensif itu.


MENGAPA MEREKA SUDAH TIDAK BERPENDAR DI MALAM HARI?

Mungkin bagi anda yang memiliki hati yang "melow" seperti saya, ini adalah bagian yang paling menyedihkan. Saat ini kita mungkin sudah jarang menjumpai mereka, bahkan saya-pun sudah sangat jarang melihatnya di tempat saya pendidikan dulu seperti yang sudah diceritakan diatas. Hal ini terjadi karena memang kunang - kunang sudah mulai menghilang.

Klaim mengenai para ilmuan yang menyatakan bahwa kita adalah generasi terakhir yang dapat melihat mereka seperti yang saya sebutkan di prolog, menurut Georgia University dalam laman site.extension.uga.edu adalah pendapat yang tidak berdasar, namun tidak dapat menghilangkan fakta bahwa mereka benar - benar makin sulit terlihat. Penurunan populasi kunang - kunang kini terjadi di seluruh dunia. Data IUCN menunjukkan 11–20 persen spesies yang dievaluasi sudah masuk kategori terancam bahkah beberapa spesies seperti Phontinus ponctulatus mengalami kepunahan lokal di Kansas Timur dan tidak terlihat lagi sejak 1960-an. Kawasan Asia Tenggara, termasuk spesies khas hutan bakau Indonesia, beberapa sudah dinyatakan rentan punah.

Para ahli masih mencari jawaban yang pasti soal mengapa hal ini terjadi, namun menurut sebagian besar ilmuan menyatakan terdapat 2 faktor utama, yakni pembangunan dan polusi cahaya. Lingkungan basah seperti rawa, sungai, danau atau lantai hutan yang lembab dan tempat basah lainnya, sebagian besar sudah menjadi lahan eksploitasi manusia.

Rawa - rawa yang dulu menjadi kampung halaman mereka sebagian besar sudah menjadi wilayah pemukiman atau gedung - gedung besar. Danau - danau sebagian besar sudah menjadi tempat wisata yang mengusik keberadaan mereka. Sungai pun kini menjadi kotor, ramai dan bising. Padahal, mereka adalah makhluk yang tidak berpindah seperti makhluk lainnya apabila tempat mereka sudah dianggap tidak nyaman. Ditambah lagi karena toleransinya terhadap polusi sangat rendah, mereka akan sulit bertahan hidup di wilayah kota.

Kelapa gading dulunya adalah rawa yang kini jadi kawasan elit Jakarta - Sumber : detik.com

Selain itu, polusi cahaya adalah faktor yang memiliki dampak tidak kalah besarnya terhadap populasi kunang - kunang di seluruh dunia. Seperti yang telah kita ketahui diatas, pendar cahaya kunang - kunang adalah bentuk komunikasi antara jantan dan betina saat hendak kawin. Polusi cahaya tersebut dapat mengganggu singkronisasi komunikasi cahaya antar kunang - kunang jantan dan betina. Riset menunjukkan polusi cahaya dapat menurunkan keberhasilan reproduksi hingga lebih dari 50 persen. Bahkan sebuah bukti ilmiah menunjukkan, sering kali kunang - kunang mengira bahwa cahaya dari lampu LED adalah balasan dari kunang - kunang lain lawan jenisnya. Hal ini berarti, telur yang akan menetas nantinya juga akan jauh lebih sedikit.

polusi cahaya dari perkotaan membuat reproduksi kunang - kunang terganggu - Sumber : dw.com

Penggunaan pestisida dan pupuk sintetis pada pertanian dan perkebunan serta perubahan iklim juga menjadi faktor yang turut berkontribusi atas kelangkaan mereka. Pupuk sintetis dan pestisida secara tidak langsung menghancurkan habitat dan menghilangkan mangsa alami mereka. Selain itu, kunang - kunang adalah penghuni wilayah dengan kelembaban tinggi mendekati 90%. Perubahan Iklim menciptakan kekeringan semakin sering terjadi, suhu yang meningkat, dan perubahan pola hujan mengeringkan tempat tinggal mereka. Di beberapa wilayah, populasi menurun tajam saat musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.


BAGAIMANA JIKA PENDAR ITU BENAR - BENAR HILANG?

Membanyangkan jika kunang - kunang sepenuhnya tiada sangatlah menyedihkan bagi saya pribadi, apalagi jika mengingat tentang berapa banyak sudah makhluk yang kita hilangkan dari muka bumi. Harimau Jawa, Harimau Bali, Macan Tutul Zanzibar, Lumba - Lumba Air Tawar Baiji, Kura - kura Pulau Pinta dan masih banyak lagi.

Tapi, jika kita bertanya apa yang akan terjadi sedangkan "mereka hanya serangga kecil yang bahkan tidak kita makan", maka kita sudah salah besar dalam berfikir. Kehilangan mereka tidak hanya tentang kehilangan keindahan dan estetika malam yang akan kita dapatkan, namun jauh lebih dari itu ;

  • Hilangnya indikator alam yang paling jujur — kunang-kunang adalah peringatan dini. Jika mereka pergi, berarti kualitas air, tanah, dan udara sudah menurun. Jika kita mengabaikannya, kerusakan akan menyebar ke makhluk lain, termasuk kita.

  • Hama pertanian meningkat — tanpa larva kunang-kunang yang memangsa siput dan keong, petani akan menggunakan lebih banyak pestisida, yang justru memperburuk keseimbangan alam.

  • Kehilangan kekayaan biologi yang tak tergantikan — dari bioluminesensi kunang-kunang, ilmuwan menemukan teknologi pencitraan medis, uji deteksi penyakit, dan penelitian sel. Jika mereka punah, kita kehilangan sumber pengetahuan yang belum sepenuhnya dipelajari.

  • Dunia menjadi lebih miskin — bukan hanya secara ekologis, keajaiban alam yang menginspirasi anak-anak, penyair, dan pelukis hilang selamanya, dan tidak ada teknologi yang bisa mengembalikannya. Bagaiamana cara kita nanti memperkenalkan kunang - kunang kepada anak cucu kita sedangkan mereka telah tiada dan tinggalah cerita.

"Kita tidak melindungi kunang-kunang hanya karena mereka indah. Kita melindunginya karena keberadaannya adalah tanda bahwa air yang kita minum, tanah yang menumbuhkan pangan, dan udara yang kita hirup masih sehat."

— Dr. Sarah Lewis, Peneliti Konservasi Kunang-Kunang


PENDAR HARAPAN UNTUK ANAK CUCU KITA

Pada tahun 1900-an (zaman meiji), terjadi penurunan populasi kunang - kunang secara sangat drastis di Jepang. Beberapa desa menggelar sayembara untuk mengumpulkan kunang - kunang yang nantinya akan dilepas di kota sebagai hiburan. Tradisi ini disebut dengan "Hotarugari" yang berarti "berburu kunang - kunang" yang mencapai puncaknya di tahun 1868 hingga 1912. Penurunan populasi tersebutlah yang kemudian menggerakkan hati seorang pemuda bernama Kiichiro Minami.

Kiichiro Minami - Sumber : silentsparks.com

Meskipun bukan seorang ilmuan secara formal, ia mendedikasikan dirinya untuk meneliti siklus hidup kunang-kunang Genji langsung di habitat sungai mereka. Dari sini, ia berhasil mengungkap rantai makanan larvanya yang mengonsumsi siput sungai tertentu. Minami melakukan penelitiannya dari tahun 1919 hingga 1920 dan setelahnya ia masih melakukan penelitian yang sama hingga 1961.

Pada tahun 1920-an tersebut, minami berhasil menemukan metode penangkaran kunang-kunang dalam penangkaran (captive rearing) untuk pertama kalinya. Hingga tahun 1961, Minami kemudian menerbitkan sebuah buku berjudul "Research on Fireflies" yang merangkum hasil penelitian dan pengamatannya selama 40 tahun.

Hasil dari penemuannya di tahun 1920, Minami mulai melepas kembali kunang - kunang yang telah ia biakkan di penangkaran ke sungai - sungai untuk memulihkan populasinya. Minami juga mengajarkan teknik ini kepada masyarakat Moriyama sehingga menjadi gerakan massal. Warga desa dilatih untuk berhenti memburu kunang - kunang dan menjaga kelestarian sungai.

Hal ini kemudian menjadi tradisi yang masih berlangsung hingga sekarang. Teknik yang Minami temukan diadopsi oleh sekolah - sekolah pada kurikulum mereka. Anak - anak sekolah diajarkan untuk memelihara kunang - kunang di kelas lalu setelah berkembang biak dilepaskan ke habitat sungai. Meskipun jumlah kunang - kunang di jepang saat ini masih tidak sebanyak dahulu, namun konservasi yang dikemukakan Minami dapat dinilai sukses.

Lalu, untuk kita yang mungkin tidak tahu sama sekali cara membiakkannya, mungkin kita bisa mempelajari terlebih dahulu untuk bertindak nantinya sembari melakukan hal - hal kecil yang cukup berdampak. Seperti, menjaga kebersihan sungai dan selokan, kurangi penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta tidak menangkap atau memindahkan kunang - kunang bila tidak ada kepentingan. Mematikan lampu luar saat malam hari dan mengarahkan sorot lampu kebawah serta menanam tumbuhan asli pada pekarangan dan membiarkannya sedikit bersemak juga disebutkan adalah hal yang dapat berdampak untuk eksistensi mereka.

Setelah itu, yang harus kita lakukan adalah menyampaikannya kepada orang lain. Sebagaimana Minami mengedukasi masyarakat Moriyama, tindakan konservasi kunang - kunang akan jauh lebih efektif bila dilakukan bersama - sama baik dalam sebuah komunitas atau masyarakat desa. Terutama tindakan untuk melakukan penangkaran, akan cukup terbatas bila hanya dilakukan seorang individu tanpa sebuah wadah atau satu kesatuan.


EPILOG

Kunang - kunang secara tidak langsung mengajarkan kepada kita tentang arti dari sebuah "harapan". Ketika malam menjadi sangat gelap, dimana tidak ada bulan atau bintang dilangit, secercah cahaya pendar seperti kunang - kunang akan terlihat begitu terang. Sama halnya dengan ketika kita sedang mendapat jalan yang begitu gelap, secercah harapan akan menjadi sangat berarti.

Pelajaran ini ternyata juga telah disadari oleh masyarakat Amazon kuno. Mereka percaya bahwa cahaya kunang - kunang berasal dari para dewa yang memberikan harapan dan bimbingan bagi orang yang tersesat di hutan saat malam hari dan sedang kehausan. Cahaya kunang - kunang dipercaya akan mengantarkan mereka pada sumber air. Hal tersebut tidak sepenuhnya khayal karena kunang - kunang memang hidup di wilayah yang basah dan terdapat air.

Tidak hanya berhenti disitu, kunang - kunang masih tetap mengajarkan harapan kepada kita, bahkan ketika mereka sedang dihadapkan dengan tantangan kepunahan. Dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan tersebut mereka secara tidak langsung memunculkan seorang tokoh penyelamat yakni Kiichiro Minami yang menjadi harapan bagi spesies mereka di Jepang dan dapat dicontoh oleh negara - negara lain di dunia.

Kepada siapa pun yang pernah terpesona oleh kedipan pedar cahaya kecil di malam :

Kunang-kunang tidak meminta tempat yang luas. Mereka hanya meminta sungai yang bersih, tanah yang lembap, kegelapan yang tenang, dan waktu untuk tumbuh tanpa terganggu. Hal-hal sederhana yang dulu ada di mana - mana, kini menjadi kemewahan yang semakin langka.

Kita masih belum terlambat, cahaya yang mulai redup itu bisa kembali menyala, jika kita bersatu menjaganya. Bukan dengan sihir, namun dengan kemampuan yang lebih dari itu, kemampuan yang sama dengan senjata kita ketika dihadapkan dengan invasi alien yang dibahas di artikel sebelumnya (baca >>>> Invasi Alien Yang Nyata), yakni "kesadaran".

Mungkin Kita tidak bisa menyelamatkan semua tempat sekaligus. Tapi di pekarangan, di desa, di sungai yang dekat dengan rumah kita, di situlah pemulihan dimulai. Mungkin tahun depan, atau dua tahun lagi, anak-anak akan berdiri di halaman dan menunjuk ke arah pepohonan sambil berseru: "ayah/ibu, kenapa rumput - rumput itu bercahaya?"

Itulah hadiah terindah yang bisa kita tinggalkan, bukan harta yang berkilauan, melainkan cahaya yang terus menyala di malam yang damai.

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, melainkan kita sedang meminjamnya dari anak-anak yang belum lahir."

— Antoine de Saint-Exupéry


DAFTAR PUSTAKA

detikcom, 2026. Apakah kita generasi terakhir yang melihat kunang-kunang? 5 April. Tersedia di: https://detik.com [Diakses: 3 November 2026].

IPB University, 2026. Kunang-kunang kian langka, Pakar IPB: alarm menurunnya kualitas lingkungan. 19 Juni. Tersedia di: https://ipb.ac.id [Diakses: 3 November 2026].

IUCN, 2026. Status konservasi famili Lampyridae. Tersedia di: https://iucn.org [Diakses: 3 November 2026].

Lee, C. (2021) 'Japan tries to save fireflies before their cherished light goes out', Zenbird.media, 19 Juli. Tersedia di: https://zenbird.media/japan-tries-to-save-fireflies-before-their-cherished-light-goes-out/ [Diakses: 5 November 2026].

Lewis, S. (2017) 'For the sake of their glow: Japanese fireflies, overexploited for their beauty, were nearly loved to death. Are others in danger of the same fate?', Undark, 1 Juni. Tersedia di: https://undark.org/2017/06/01/sake-their-glow-moriyama-japan-fireflies/ [Diakses: 5 November 2026].

RRI, 2026. Kunang-kunang makin jarang terlihat, kemana perginya cahaya kecil dari alam? 26 September. Tersedia di: https://rri.co.id [Diakses: 3 November 2026].

RRI, 2026. Kunang-kunang semakin jarang terlihat, kenali penyebab dan upaya pelestariannya. 31 Oktober. Tersedia di: https://rri.co.id [Diakses: 3 November 2026].

Yoursay.id, 2026. Ke mana perginya kunang-kunang? Mengungkap krisis ekologi di balik polusi cahaya. 24 September. Tersedia di: https://yoursay.suara.com [Diakses: 3 November 2026].

Zhu, C., Lu, X., Cai, T., Zhu, K., Shi, L., Chen, Y., Wang, T., Yang, Y., Tu, D., Fu, Q., Huang, J. dan Zhen, Y. 2024. Firefly toxin lucibufagins evolved after the origin of bioluminescence. PNAS Nexus. 3(6): 215.

Viva DIAZ

Komentar

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar. Masuk sekarang

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi artikel ini.