Obituari
Catatan Perjalanan Hidup Setia Sampai Akhir Seorang Agus Purnomo

Selama berproses di Diaz lahir gagasan untuk mengembangkan dua jenis kemampuan literasi di kalangan anggota Diaz: literasi tekstual melalui akses buku-buku, dan literasi pengalaman melalui kegiatan petualangan serta kunjungan lapangan melalui media fotografer. Dengan demikian, setiap anggota memiliki kelengkapan pemahaman terhadap lingkungan sekitar sebelum mengambil foto.
Agus Purnomo lahir di Situbondo pada 25 Desember 1980. Ia menempuh jenjang pendidikan di SD Andongsari 5, SMPN 1 Ambulu, dan SMKN 3 Jember, sebelum melanjutkan studi di Jurusan Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang. Sayangnya, karena kesibukan berorganisasi dan kegiatan dokumentasi di berbagai wilayah Jawa Timur, ia belum sempat menyelesaikan studinya. Ia wafat di kota kelahirannya, Situbondo, pada tanggal 22 April 2022 karena sakit.
Agus masuk organisasi Diaz pada tahun 2023 dengan nomor Nia : D139117 Elang Hutan. Sepanjang masa pengabdiannya di organisasi, Agus dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan ruang-ruang kreativitas melalui keahliannya sebagai fotografer. Berbekal pengetahuan dari bidang studinya di Jurusan Komunikasi UMM, ia mampu mendorong minat para anggota untuk mengenal dunia fotografi, memahami prinsip-prinsip dokumentasi foto yang baik, serta mengenali cara kerja seorang jurnalis foto. Bahkan, ia juga menguasai perawatan perangkat keras kamera. Baginya, fotografi bukan sekadar keterampilan mengambil gambar, melainkan sarana menyampaikan cerita dari lapisan masyarakat.
Keterlibatan Agus dalam setiap kegiatan Diaz selalu tampak konsisten. Pada masa itu, biaya operasional pencetakan foto tergolong mahal, dan peralatan kamera masih sulit diakses sebagian anggota. Namun, ia tidak pernah berhenti berusaha memberikan hasil terbaik untuk organisasi. Ia kerap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan dana pribadi hanya agar rekaman-rekaman visual dari kegiatan organisasi.
Selama berproses di Diaz lahir gagasan untuk mengembangkan dua jenis kemampuan literasi di kalangan anggota Diaz: literasi tekstual melalui akses buku-buku, dan literasi pengalaman melalui kegiatan petualangan serta kunjungan lapangan melalui media fotografer. Dengan demikian, setiap anggota memiliki kelengkapan pemahaman terhadap lingkungan sekitar sebelum mengambil foto.
Sebuah kedai buku dengan bangunan klenengan istilah jawa tembok terbuat dri separuh bata separuh triplek bekas atap terbuat dari asbes belas sederhana dalam penataan pas dipadu dengan cat warna merah dan putih namun terkesan elegan berdirilah dengan kepercayaan diri sebagai aktual diri di beri nama “KEDAI BUKU”. . dari aktifitas sebuah gagasan kedai buku ia mencoba membangun ekonomi secara socioprener sebagai ruang partisipan bersama sekaligus ruang penyebaran ilmu . Tempat sangat cocok buat kongkow diskusi bagi para pegiat literasi. Ia menyewakan buku-buku dengan harga murah kalau untuk anak anak digratiskan di kedai bukunya.
Koleksi buku yang ia siapkan tidak hanya buku tentang teknik fotografi, tetapi juga buku-buku antropologi, cerita rakyat, jurnal perjalanan, dan tulisan tentang masyarakat lokal. Bersama kedai kopi yang menyatu dalam satu ruangan, tempat ini menjadi ruang belajar yang tidak resmi namun hidup, Lokasi kedai buku berdekatan dengan terminal Landungsari dengan luasan 5x4 untuk sebuak kedai sangat representatif .koleksi buku waktu itu kurang lebih ada 750 buku berbagaima macam jenis buku ada koleksi foto juga beberapa kali di jadikan pameran foto dari hasil agus sendiri dan teman temanya
Kedai buku itu juga berfungsi sebagai tempat berkumpul para anggota Diaz dan berbagai kalangan komunitas lain. Kedai buku penuh aroma kopi tubruk tercipta menjadikannya titik temu di mana orang bisa berbagi pengetahuan, membaca buku, dan berdiskusi dengan jaringan di luar organisasi sekaligus menghirup aroma kas seduhan kopi panas . Di tempat pertemuan inilah, ia pernah menyambut kunjungan Don Hasman, figur yang sangat diidam-idamkan dalam dunia fotografi dokumenter Indonesia.
Don Hasman seorang tokoh fotografer nasional kelahiran Bandung yang telah lama berkecimpung di bidang etnofotografi dengan pendekatan antropologis. Ia banyak melakukan perjalanan lintas pulau untuk merekam kehidupan masyarakat adat, ritual budaya, serta perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Karya-karyanya kerap dipamerkan di galeri nasional dan menjadi referensi bagi banyak pembelajar fotografi dokumenter. Ia dikenal sebagai pribadi yang berkelas dengan gaya bicara lembut, khas cara bertutur orang Sunda.

Ketika berkunjung ke kedai buku dan sekretariat Diaz, Don Hasman berbincang akrab dengan Agus. Dalam percakapan itu, ia menyampaikan pesan yang kemudian membekas mendalam dalam perjalanan kreatif Agus:
“Agus, teruskan perjuanganmu memperkenalkan foto sebagai media membangun literasi teman-temanmu dan masyarakat sekelilingmu.”
Pesan itu menjadi salah satu pemicu pemikiran Agus untuk mengembangkan arah komunitasnya. Dalam cara berpikir dan gaya fotografinya, ia banyak dipengaruhi oleh aliran pemikiran Don Hasman yang mengutamakan kedalaman makna dan hubungan manusia-budaya, meskipun ia tetap mempertahankan keaslian kecenderungan gaya pribadinya.
Memang agak berbeda melihat cara berpikir seorang Agus dibandingkan dengan anggota yang lain. Cenderung diam menyerap dan menginvetaris potensi. Jarang terlihat dalam perdebatan kalau menyangkut teknik tata kelola organisasi. Mungkin secara karakter lebih introvet tetapi mudah bergaul dengan yang lainya .suka menolong dengan keterbatasan beliaunya
Agus Purnomo meninggalkan dua orang anak; istrinya telah lebih dahulu berpulang sebelum dirinya. Kini jejak-jejak pemikran foto dan semangat literasi yang ia tanamkan serta di kalangan anggota Diaz menjadi warisan yang terus diingat. Semoga seluruh amal dan dedikasi almarhum selama berbakti di Diaz diterima dengan baik, dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan dalam mengenang jejak perjuangannya.
------------------ 000--------------------
Viva DIAZ


