Lompat ke konten

Keilmuan

Niat Baik Tidak Selalu Bijak : Masalah Street Feeding

Oleh 14 menit baca
Kasih sayang tanpa pengetahuan adalah seperti obor yang menyinari jalan, namun membakar rumah di sampingnya (Sayyidina Ali ibn Abi Thalib R. A)

Artikel ini membahas street feeding, yaitu praktik memberi makan hewan jalanan seperti kucing dan anjing liar, dari sisi empati sekaligus dampak jangka panjangnya terhadap populasi, ekosistem, dan penyebaran penyakit. Penulis menekankan bahwa niat baik perlu disertai pengetahuan dan tanggung jawab.

PROLOG

Ada pemandangan yang hampir selalu berhasil menyentuh sisi kemanusiaan kita, yaitu ketika seseorang berhenti di pinggir jalan, mengeluarkan sebungkus makanan, lalu memberikannya kepada kucing kurus yang bersembunyi di bawah mobil. Di tempat lain, seseorang rutin membawa makanan untuk anjing yang tidur di depan pertokoan. Ada pula orang-orang yang rela mengeluarkan uang pribadi demi memastikan hewan-hewan yang hidup di jalanan tidak tidur dalam keadaan lapar. Tindakan semacam ini lahir dari salah satu sifat dasar manusia yang sangat mulia yakni "EMPATI".

Di tengah kehidupan perkotaan yang sering kali membuat manusia sibuk dengan urusannya sendiri, kepedulian terhadap makhluk hidup yang terlantar merupakan hal yang berharga. Bagi hewan yang kesulitan mendapatkan makanan, bantuan tersebut bisa berarti kesempatan untuk bertahan hidup.

Namun, dari sudut pandang lain akan hal ini, terbesit pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan yaitu "apakah tindakan membantu seekor - duaekor hewan hari ini juga berdampak baik bagi hewan tersebut, lingkungan dan makhluk hidup lain dalam jangka panjang?". Pertanyaan tersebut ternyata menjadi penting ketika kita membahas street feeding.

Street Feeding menurut laman azko.id berarti kegiatan memberikan makanan kepada hewan-hewan terlantar di jalanan, sering kali kucing dan anjing liar yang tidak punya pemilik. Aktivitas ini biasanya dilakukan secara mandiri maupun berkelompok oleh relawan atau pecinta hewan yang peduli terhadap kesejahteraan satwa jalanan.

Perdebatan tentang praktik ini sering terjebak dalam dua kubu. Di satu sisi, pemberi makan dianggap sebagai orang yang penyayang. Di sisi lain, mereka dianggap sebagai sumber masalah lingkungan. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks daripada sekadar siapa yang peduli dan siapa yang tidak.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pemberian makanan tambahan dapat memengaruhi perilaku, penggunaan habitat, interaksi antar hewan, dan dinamika penyakit. Sementara itu, kucing dan anjing yang hidup bebas dapat menimbulkan dampak ekologis, tergantung pada jumlah, lokasi, perilaku, dan kondisi ekosistemnya.

Artinya, persoalan street feeding bukan tentang melarang empati. Persoalannya adalah memahami bahwa niat baik belum tentu menghasilkan dampak yang baik apabila tidak disertai pengetahuan dan tanggung jawab.

Kasih sayang tanpa pengetahuan adalah seperti obor yang menyinari jalan, namun membakar rumah di sampingnya

- Sayyidina Ali ibn Abi Thalib R. A -


Ketika Pakan Hewan Menjadi Sumber Masalah Lingkungan

Makanan khusus hewan, baik berbentuk butiran kering maupun makanan basah, memang diformulasikan agar disukai dan dibutuhkan oleh tubuh kucing maupun anjing. Namun ketika diletakkan di tempat terbuka dan tidak habis dimakan, pakan yang tersisa tidak akan hilang begitu saja akan menjadi sumber masalah yang nyata.

Butiran makanan yang tertinggal dan terkena kelembapan akan membusuk, menumbuhkan jamur, dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sisa pakan ini menarik kedatangan hewan lain yang tidak diinginkan: tikus, kecoa, lalat, hingga semut yang berdatangan dalam jumlah besar. Seperti tercatat dalam data resmi Pemerintah Daerah Makau, selama tahun 2025 hingga pertengahan 2026, petugas kebersihan telah mengangkat lebih dari 4 ton sisa makanan termasuk pakan hewan yang tidak habis dari 89 titik pemberian makan hewan liar yang tersebar di wilayah pemukiman. Angka ini menunjukkan betapa luasnya dampak yang sering luput dari perhatian kita.

Dr. Hala Abdel Karim, konsultan kedokteran keluarga, menjelaskan bahwa pakan hewan yang diletakkan secara rutin di satu lokasi menciptakan sumber pangan tetap bagi hama. "Ketika tikus menemukan sumber makanan yang tersedia setiap hari di suatu tempat, mereka akan menetap, berkembang biak, dan menyebar ke seluruh lingkungan sekitar. Risiko penularan penyakit pun ikut meluas," ujarnya.

Pakan yang hanyut ke selokan saat hujan turun juga membawa dampak lain yakni, sisa nutrisi dalam makanan dapat memicu pertumbuhan lumut dan ganggang yang menyumbat saluran air, sehingga memperbesar risiko genangan dan banjir di lingkungan pemukiman. Apa yang dimulai dari niat memberi makan, tanpa disadari ikut mengganggu keseimbangan kebersihan dan kenyamanan lingkungan tempat kita semua tinggal.

Hal yang sama berlaku untuk wadah makanan yang ditinggalkan dalam waktu lama. Bekas air liur dan sisa makanan yang menempel menjadi sarang bakteri. Tempat yang seharusnya memberi makan justru menjadi tempat penularan penyakit antar hewan.


Risiko Penularan Penyakit di Antara Hewan dan Manusia

Memberikan makanan khusus hewan memang lebih aman daripada memberi sisa makanan manusia yang mengandung bumbu berlebih atau bahan berbahaya. Namun, lokasi pemberian makan yang tetap sama dan dikunjungi banyak hewan membawa risiko tersendiri yang tidak boleh diabaikan.

Ketika kucing dan anjing dari berbagai penjuru berkumpul di satu titik untuk makan, mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Hewan yang sehat bersanding dengan yang sakit, dan kuman berpindah melalui udara, sentuhan, atau melalui wadah makanan yang dipakai bergantian. Penyakit menular seperti panleukopenia pada kucing, virus distemper pada anjing, serta infeksi saluran pernapasan menyebar dengan sangat cepat. Satu hewan sakit bisa menularkan ke puluhan hewan lain dalam waktu singkat.

Dr. Sari Lestari, dokter hewan yang telah bertahun-tahun menangani hewan liar domestik dalam wawan caraa oleh RRI.or.id, menyampaikan keprihatinannya: "Saya sering melihat kucing yang diberi makanan bergizi lengkap setiap hari, tetapi tetap sakit karena di tempat makan itu mereka saling menularkan penyakit. Makanan yang baik tidak akan berguna jika sistem kekebalan tubuh mereka terus-menerus dihajar kuman yang berpindah dari satu hewan ke hewan lain di wadah yang sama."

Tidak hanya antarhewan, ada pula penyakit yang dapat berpindah ke manusia — yang dikenal sebagai penyakit zoonosis. Toksoplasmosis yang dibawa kucing, infeksi kurap, hingga penyakit cakaran kucing dapat menular kepada warga, terutama anak-anak yang bermain di sekitar lokasi pemberian makan, ibu hamil, dan lansia yang daya tahan tubuhnya lemah. Atau yang lebih mengerikan lagi adalah rabies yang memiliki tingkat kematian mencapai hampir 100% setelah kemunculan gejala klinis dan virus ini dapat meng-inveksi hampir semua mamalia termasuk kucing.

Jadi, meskipun makanan yang diberikan sudah tepat jenisnya, cara dan tempat pemberiannya tetap menentukan apakah makanan itu memberi manfaat atau justru menjadi sarana penyebaran penyakit.


Ledakan Populasi dan Kesejahteraan yang Tertunda

Ini adalah kenyataan yang paling sulit diterima, namun paling penting untuk dipahami yakni ketersediaan pakan yang konsisten tanpa diimbangi pengendalian populasi akan mempercepat pertumbuhan jumlah hewan liar di jalanan.

Ketika makanan tersedia dengan pasti setiap hari, tingkat kematian anak hewan menurun, lebih banyak yang tumbuh hingga dewasa, dan mereka pun berkembang biak lebih cepat. Dalam waktu singkat, jumlah hewan di satu wilayah bisa melonjak berkali-kali lipat. Apa yang terjadi kemudian? Makanan yang tersedia, meskipun dalam jumlah besar, tidak akan mampu menampung semua mulut yang baru lahir. Hewan-hewan itu tetap kelaparan, hanya kini jumlahnya jauh lebih banyak dan persaingan antar mereka semakin tajam.

Memberi makan tanpa menata masa depan sama seperti menyiram tanaman tanpa memastikan akarnya kuat. Yang tampak tumbuh hari ini, bisa saja layu dalam kesengsaraan esok hari.

-Prof. Dr. Ir. Bambang Suryobroto, Ahli Perilaku Satwa IPB dalam Seminar Nasional Kesejahteraan Hewan dan Keseimbangan Ekologi (Bogor 17/8/2026)-

Asia for Animals Coalition menegaskan bahwa pemberian pakan yang tidak terawasi justru menempatkan hewan dalam posisi yang lebih rentan. Hewan yang terbiasa mendapat makanan dari manusia menjadi terlalu bergantung dan kehilangan kemampuan mencari makan secara mandiri. Jika suatu hari pemberian makan terhenti karena pindah, sakit, atau kehabisan biaya, mereka tidak tahu cara bertahan hidup sendiri. Mereka yang lahir di jalanan tidak dibekali naluri berburu atau mencari sumber pakan alami yang cukup. Akibatnya, angka kematian karena kelaparan justru melonjak tajam.

Selain itu, keberadaan hewan dalam jumlah berlebih di jalanan meningkatkan risiko tertabrak kendaraan, diusir dengan kasar, atau disakiti oleh orang yang merasa terganggu. Kita mungkin menyelamatkan mereka dari kelaparan hari ini, tetapi tanpa sterilisasi dan pengelolaan yang tepat, kita justru menyiapkan penderitaan yang lebih besar bagi generasi mereka di masa depan.


Dampak Ekologis : Belajar Dari Australia

Kasus di Australia hampir mirip dengan kasus yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya mengenai makhluk invasif (read >>> Invasi Alien Yang Nyata) dan memang dimensi yang mungkin paling jarang disadari oleh pelaku street feeding. Pemberian pakan yang tidak teratur tidak hanya berdampak pada hewan yang diberi makan, tetapi mengubah struktur seluruh ekosistem di sekitarnya. Hewan yang jumlahnya melonjak karena ketersediaan pakan buatan akan menekan spesies lain bahkan terkadang hingga kepunahan lokal.

Seekor kucing liar yang diawetkan (taksidermi) bersama seekor kakatua merah muda di Museum Australia Tengah - Sumber : wikipedia.org

Australia memberikan gambaran paling nyata tentang bagaimana pemberian makan hewan liar domestik dapat berubah menjadi bencana ekologis yang meruntuhkan keanekaragaman hayati. Di negeri yang sejak lama terisolasi, hewan asli berevolusi tanpa kehadiran pemangsa seperti kucing. Akibatnya, mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan terhadap pemburu yang cekat dan efisien ini. Adapun fakta dari keberadaan kucing liar domestik di Autralia antara lain :

  • Kucing membunuh rata-rata 1.5 miliar hewan asli setiap tahun di Australia termasuk mamalia, burung, reptil, amfibi, dan hewan tak bertulang punggung.

  • Seekor kucing liar dapat membunuh hingga 791 hewan asli per tahun di alam bebas.

  • Kucing telah berperan langsung dalam kepunahan 20–25 spesies mamalia asli Australia dan menjadi ancaman bagi lebih dari 200 spesies yang terancam punah.

Yang perlu dipahami adalah, memberi makan kucing liar tidak menghilangkan naluri berburu mereka. Kucing tetap berburu bahkan ketika perutnya kenyang, berburu bagi mereka bukan sekadar mencari makan, melainkan perilaku alami. Dengan memberi makan, kita memastikan mereka tetap hidup, tetap kuat, tetap berkembang biak, dan tetap berburu setiap hari di lingkungan sekitar.

Maka, dari hal tersebutlah akan muncul sejumlah masalah berantai, antara lain :

  1. Tekanan Predasi Meningkat — Lebih banyak kucing berarti lebih banyak hewan asli yang dibunuh setiap harinya. Burung, mamalia kecil, reptil yang sudah terancam punah semakin terdesak kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan.

  2. Keseimbangan Rantai Makanan Tergeser — Hilangnya spesies pemakan serangga atau pemakan biji-bijian mengubah kesuburan tanah, penyebaran biji tumbuhan, hingga jumlah serangga di lingkungan tersebut.

  3. Spesies Agresif Menguasai Wilayah — Pemberian makan juga menguntungkan burung-burung yang lebih besar dan agresif, sehingga burung kecil yang asli dan rentan terus diusir dari habitatnya. Di kawasan pemukiman Australia, burung seperti gagak, kerak, dan burung pemakan bangkai berkembang biak berlebih sementara burung kecil menghilang.

  4. Penyakit Menyebar ke Satwa Liar — Hewan domestik yang berkumpul membawa patogen yang dapat menular ke satwa liar, yang belum memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

  5. Ketergantungan yang Mematikan — Anak-anak kucing yang lahir di lingkungan yang diberi makan tidak belajar berburu secara mandiri. Jika pemberian makan berhenti, mereka tidak hanya kelaparan, tetapi juga tidak mampu mengisi peran ekologis apa pun di alam.

Pemerintah negara bagian Victoria, Australia, secara tegas menyatakan dalam pedoman resminya: "Memberi makan kucing yang tidak Anda miliki adalah cara paling pasti untuk menciptakan masalah jangka panjang. Pemberian makan menopang perkembangbiakan dan menjaga pemangsa tetap ada di lingkungan tanpa ada pihak yang bertanggung jawab".


Ketika Niat Baik Menjadi Sumber Konflik Sosial

Kita semua tentu menginginkan lingkungan yang harmonis, tempat di mana manusia hidup berdampingan dengan hewan. Namun pemberian pakan yang tidak diatur sering kali justru menciptakan ketegangan yang tidak perlu.

Ketika hewan berkumpul di satu titik untuk makan, sifat teritorial mereka muncul. Mereka menjaga sumber makanan itu dari hewan lain, dan kadang juga dari manusia yang lewat. Banyak kasus cakaran atau serangan kecil terjadi bukan karena hewan itu jahat, melainkan karena mereka merasa harus melindungi apa yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan mereka.

Warga yang tinggal di sekitar lokasi pemberian makan juga memiliki hak yang sama untuk merasa nyaman di lingkungannya. Bau kotoran yang menumpuk, suara hewan yang berkelahi, kerusakan tanaman di pekarangan, hingga kekhawatiran anak-anak yang bermain di dekat tempat berkumpulnya hewan, semua ini adalah kekhawatiran yang sah dan layak didengarkan.

Pertanyaan ini layak didengarkan dengan hati yang terbuka. Mencintai hewan tidak boleh berarti mengabaikan kesejahteraan sesama manusia. Sebuah kebaikan yang sejati tidak boleh menyakiti pihak lain, baik hewan maupun manusia.


Peduli yang Benar-Benar Memberi Manfaat

Lantas, apakah semua ini berarti kita harus berhenti memberi makan mereka? Apakah kita harus membiarkan mereka kelaparan? tentu saja jawabannya adalah "Sama sekali tidak".

Justru karena kita peduli, kita harus melakukannya dengan cara yang benar — cara yang tidak merusak ekologi, tidak menciptakan ledakan populasi, dan tidak menyakiti makhluk lain. Ada langkah-langkah nyata yang bisa kita lakukan agar kasih sayang kita benar-benar terasa berarti:

  • Gabungkan pemberian pakan dengan program sterilisasi. Ini adalah langkah paling penting karena memberi makan tanpa mengendalikan jumlah kelahiran ibarat mengisi tempayan yang dasarnya berlubang. Dengan sterilisasi, populasi hewan dapat terkendali secara wajar, sehingga setiap ekor mendapat perhatian dan makanan yang cukup serta tekanan terhadap satwa liar di sekitarnya berkurang. Program semacam ini telah sering dilakukan oleh sejumlah aktivis atau pecinta hewan seperti Yayasan Peduli Liar Indonesia (YPLI) dengan nama TSL/TNL (Tangkap - Steril - Lepas / Trap - Neuter -Return).

  • Salurkan bantuan melalui penampungan atau yayasan resmi. Lembaga yang memiliki program terstruktur akan menempatkan hewan di tempat yang aman, melakukan perawatan kesehatan, dan mencari pemilik adopsi.

  • Jika memberi makan di lingkungan sekitar, lakukan dengan tanggung jawab penuh. Letakkan pakan di tempat tertutup yang tidak dapat dijangkau hewan lain, pastikan sisa makanan dan wadah dibersihkan segera, pilih lokasi yang tidak mengganggu warga, dan pastikan hewan tersebut disterilkan agar tidak berkembang biak dan menambah tekanan ekologis.

  • Pahami dampak di balik piring makanan. Setiap hewan yang diberi makan tetap berburu. Jika di lingkunganmu terdapat satwa liar yang dilindungi atau terancam, kehadiran kucing yang didukung pakan buatan dapat menjadi ancaman langsung bagi mereka.

  • Ajak orang lain ikut serta. Kebaikan yang dilakukan bersama-sama jauh lebih kuat daripada yang dilakukan sendirian. Semakin banyak orang yang memahami cara menolong dengan benar, semakin banyak hewan yang hidupnya berubah menjadi lebih baik.

Menjadi pecinta hewan bukan diukur dari seberapa sering kita menaruh pakan di pinggir jalan, melainkan dari seberapa bertanggung jawab kita atas masa depan mereka dan atas dampak yang mereka timbulkan bagi seluruh lingkungan.

— Dr. Agus Setiawan, Ketua Yayasan Sahabat Satwa Indonesia dalam Pertemuan Nasional Pengelolaan Populasi Hewan Liar Domestik (Surabaya, 2/9/2026) -


EPILOG

Hati yang tergerak untuk memberi makan makhluk tak berdaya adalah anugerah yang sangat indah. Di dunia yang semakin sibuk memikirkan diri sendiri, perhatianmu terhadap mereka adalah bukti bahwa kelembutan masih hidup di tengah kita. Setiap butir makanan yang kamu berikan lahir dari rasa kasih yang tulus dan itu patut dihargai.

Namun, marilah kita merenung sejenak : kasih sayang yang sejati tidak hanya memikirkan apa yang mereka butuhkan hari ini, tetapi juga apa yang akan menopang hidup mereka di hari esok, dan bagaimana keberadaan mereka memengaruhi semua makhluk lain yang berbagi bumi ini.

Di Australia, jutaan hewan asli yang tak berdosa kehilangan nyawa setiap tahunnya, bukan karena mereka lemah, melainkan karena keseimbangan alam yang mereka andalkan telah terganggu oleh kehadiran pemangsa yang jumlahnya terus didukung oleh tangan manusia. Setiap hewan kecil yang dibunuh, setiap burung yang hilang dari pepohonan, setiap spesies yang perlahan punah

Dalam artikel ini, penulis tidak sedang bermaksud untuk menjadi public enemy bagi pecinta satwa, penulispun juga seorang pemelihara kucing yang saat artikel ini ditulis kucing saya sudah berumur 7 tahun. Tapi disini penulis berusaha mengajak pembaca untuk berfikir lagi mengenai dampak apa yang bisa saja disebabkan oleh langkah kecil yang bahkan didasari oleh rasa empati seperti street feeding.

Terkadang, kita sebagai pecinta alam, pecinta satwa harus memperlakukan hewan itu seperti anak. Dimana sayang itu tidak selalu berarti meng-iya-kan setiap permintaan anak. Terkadang menolak permintaan anak juga berarti sayang, karena kita sudah tau dampak apabila kita meng-iya-kannya. "ayah/ibu aku ingin PS" - "Tidak nak, PS akan melenakanmu dari pengetahuan yang seharusnya kamu pahami di sekolah". Namun, karena PS tidak berarti bagi hewan "tentunya", maka ini dapat di analogikan seperti street feeding yang kita bahas.

Hati yang lembut harus disandingkan dengan pikiran yang tajam, agar kasih sayang kita tidak menjadi pedang yang melukai

- Buya Hamka -


Daftar Pustaka

Asia for Animals Coalition, n.d. World stray animals day: understanding the impact of street feeding. Bangkok: Asia for Animals. Tersedia di: https://asiaforanimals.com [Diakses: 2 November 2026].

EWASH, n.d. What happens if you feed a stray? Tersedia di: https://ewash.org [Diakses: 2 November 2026].

GOGI, n.d. The truth about street dog feeding. New Delhi: GOGI. Tersedia di: https://gogi.in [Diakses: 2 November 2026].

Government of Victoria, n.d. Responsible pet ownership: feeding cats. Melbourne: State Government of Victoria. Tersedia di: https://www.vic.gov.au [Diakses: 2 November 2026].

Invasive Species Council, n.d. Meet the invaders: cats. Melbourne: Invasive Species Council. Tersedia di: https://invasives.org.au/meet-the-invaders/cats/ [Diakses: 2 November 2026].

Kompas, 2026. Pro-kontra street feeding, apa yang sebaiknya dilakukan? Ini saran ahli UGM. 21 Maret. Tersedia di: https://kompas.com [Diakses: 2 November 2026].

Pemerintah Daerah Makau, 2026. Siaran pers: pembersihan sisa makanan hewan di titik pemberian makan. Makau: Governo de Macau. Tersedia di: https://gov.mo [Diakses: 2 November 2026].

RRI, 2026. Kasih makan kucing liar, bijak atau bikin masalah? 15 April. Tersedia di: https://rri.co.id [Diakses: 2 November 2026].

Threatened Species Recovery Hub, 2021. The impact of cats in Australia: findings factsheet. National Environmental Science Programme. Tersedia di: https://www.nespthreatenedspecies.edu.au [Diakses: 2 November 2026].

UAEFeed, 2025. Haphazard feeding of stray cats and birds fuels pest infestations. Dubai: UAE Feed. Tersedia di: https://uaefeed.com [Diakses: 2 November 2026].

Woinarski, J.C.Z., Legge, S.M. dan Dickman, C.R., 2019. Cats in Australia: companion and killer. Melbourne: CSIRO Publishing.

Viva DIAZ

Komentar

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar. Masuk sekarang

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi artikel ini.