Lompat ke konten

Refleksi

Urgensi DIKLATSAR OPA DIAZ ?

Oleh 3 menit baca
Sekelompok anggota tim berhelm dan berkaus hijau gelap berpose bersama di padang rumput, di depan spanduk merah bertuliskan 'Mapala' dan sejumlah bendera kuning di tengah hutan.

Anggota Diaz, Irwan, menyampaikan: “Salah satu fungsi dari diklat adalah saling mengingat materi sekaligus mengulik, menggagas ide untuk memperbaiki dan mengolah ingatan literasi yang terabaikan. Diklat juga menjadi alat membangun komunikasi kemanusiaan antar anggota; istilahnya adalah reuni tipis-tipis yang berkualitas.”

Diklat memegang peran vital dalam keberlanjutan napas dan organ serta pengembangan anggota Diaz. Proses ini bukan hanya bertujuan mencetak kader-kader baru yang kompeten, melainkan juga menjadi ruang tumbuh untuk memperkuat silaturahmi, membangun sense of korsa (semangat kebersamaan), sekaligus tempat bertukar gagasan ketika anggota ingin menyampaikan konsep-konsep terbaik yang mereka peroleh dari luar organisasi. Di ruang inilah nilai-nilai kolektivitas bersama berbagai gagasan tersebut dapat ditumbuhkan di antara para anggota.

Ruang semacam ini perlu terus dikembangkan. Memakai istilah bahasan gerdu yang suka membual dan menghayal ternyata sangat diperlukan, meskipun kadang kurang logis dengan keadaan hari ini. Mengingatkan beberapa tulisan di media Tiongkok, universitas-universitas sudah membuka keran-keran keilmuan — salah satu contoh jurusan literasi imajinasi. Gagasan sekaligus menyalurkan ruang-ruang kanal ternyata perlu sebagai media pengingat serta mengefungsikan kembali algoritma otak dengan baik secara kesehatan, mengurangi demensia.

Anggota Diaz, Irwan, menyampaikan: “Salah satu fungsi dari diklat adalah saling mengingat materi sekaligus mengulik, menggagas ide untuk memperbaiki dan mengolah ingatan literasi yang terabaikan. Diklat juga menjadi alat membangun komunikasi kemanusiaan antar anggota; istilahnya adalah reuni tipis-tipis yang berkualitas.”

Dalam dinamika organisasi Diaz, diklat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan generasi lama dengan generasi baru, guna memastikan perpindahan pengetahuan, pengalaman, dan visi organisasi tidak terputus. Itulah sebabnya diklat menjadi kurikulum berkelanjutan sekaligus investasi jangka panjang demi kemajuan bersama seluruh anggota.

Membangun komunikasi dalam kesetaraan dan berkualitas tentu diperlukan ruang mendengar gagasan, ruang berbicara gagasan semua pada asas kesamaan simetris, sehingga kemampuan masing-masing anggota dapat dieksplorasi tanpa takut didominasi. Perlu keberanian bersama agar saling memahami. Sebut saja Wak Gojel, sepertinya ia bagian representatif anak-anak anggota muda, namun perkataannya juga menarik sebagai titik keseimbangan: “Anak-anak anggota muda itu sebenarnya sudah paham dan mengerti, kadang agak menyakitkan kalau dibanding-bandingkan dan tidak enak dengan bahasa yang selalu tutur-tutur kata yang di pakaipun tidak banyak kosa kata .sehingga terasa anyep.” Mungkin benar juga . hal ini terjadi karena anggota muda belum memiliki ruang kanal untuk berbicara yang lebih lugas.

Meskipun memiliki peran strategis, hasil diklat tidak selalu berjalan ideal atau muncul secara instan, sama seperti proses pendidikan formal pada umumnya. Ada peserta yang berkembang pesat menyerap materi, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar memahaminya. Bahkan tak jarang capaiannya tidak sesuai harapan; hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti kurangnya motivasi individu, maupun faktor eksternal seperti metode pelatihan yang kurang tepat sasaran. Atau siapa tahu, mereka menemukan hasrat lain yang lebih menjanjikan dan berpeluang.

Lalu, apakah keberhasilan diklat dapat dilihat secara esensial? Jika dilihat dari kurva perkembangan, seharusnya terdapat kenaikan yaitu ketika setiap anggota Diaz terus tumbuh dengan mengembangkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh di lingkungan Diaz.

Namun justru di situlah terletak esensi diklat sebagai proses pembelajaran holistik: keberhasilannya tidak hanya diukur dari pencapaian keterampilan teknis semata, melainkan juga dari kemampuan setiap individu merefleksikan seluruh pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang penuh hambatan, sebagai “vaksin” penguat diri.

Bagi sebagian orang, baik di dalam maupun di luar organisasi, diklat mungkin hanya terkesan sebagai formalitas belaka. Namun bagi mereka yang menyadari potensinya, diklat adalah laboratorium kehidupan yang menyediakan tiga modal utama: pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan jaringan hubungan (sosial). Ketiganya menjadi fondasi untuk menghadapi tantangan di lingkungan mana pun, baik dalam konteks profesional maupun personal.

Dengan kata lain, diklat dan mendiklatkan diri di Diaz di setiap waktu adalah “peta panduan” yang membantu setiap individu untuk dapat mempertahankan diri sekaligus terus mengembangkan diri di tengah perubahan zaman yang dinamis.

Viva DIAZ

Komentar

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar. Masuk sekarang

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi artikel ini.