Obituari
DODI CAHYO SURYONO: Seorang Pecinta Goa yang Hidupnya Diberikan untuk Penggiat Caving di Malang. Sebuah kesetiaan sampai akhir.

Dodi Cahyo Suryono biasa di panggil mas DODI seorang caver perintis di kota Malang ia mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk dunia penjelajahan goa. Anggota DIAZ banyak di pengaruhi oleh beliau tentang pemikiran Speleologi
Dodi Cahyo Suryono biasa di panggil mas DODI seorang caver perintis di kota Malang ia mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk dunia penjelajahan goa. Lulusan Universitas Brawijaya ini bukan sekadar pengamat ia adalah pelaku bagaimana mengajarkan seseorang untuk minat terhadap dunia dalam perut bumi.
Anggota DIAZ banyak di pengaruhi oleh beliau tentang pemikiran speleologi. Mas Dodi mulai bersentuhan dengan DIAZ mulai tahun 1997 Meski tidak tercatat sebagai anggota resmi, jasa-jasanya begitu besar sehingga penghormatan tertinggi diberikan: status anggota kehormatan, yang diserahkan kepada istrinya sebagai pengganti dirinya.
Ia tak pelit memberi dan meminjamkan Alat-alat caving pada anggota sekaligus organisasi pada saat kegiatan eksplorasi semua demi kemajuan DIAZ, agar teman-teman muda bisa terus turun ke goa dan mengembangkan, organisasi Diaz tumbuh menjadi "gudangnya penjelajah goa"—tempat di mana calon-calon caver ditempa menjadi matang secara mental. Dari sinilah banyak hal lahir: keterampilan, kebersamaan, hingga semangat yang menular ke mana-mana.
Mas Dodi bukan tipe orang yang pandai mempresentasikan sebuah makalah secara panjang lebar. Ia lebih banyak bicara lewat tindakan. Ilmu cavingnya secara langsung di bina oleh dr. Robby Ko King Tjoen (sering dikenal sebagai dr. Ko), tokoh legendaris yang dinobatkan sebagai Bapak Speleologi Indonesia.
Mas dodi dengan pemikiran yang sederhana, namun selalu memantik pikiran: membiarkan orang lain merenung, menemukan jalan sendiri. Seringkali ia memberi bantuan tanpa diketahui siapa yang menerimanya. Senyumnya terselip di balik kebaikan yang tak dipublikasikan. Dan di samping itu, ia penuh tawa; humor yang khas, tak terduga, membuat suasana selalu cair.
Lahir pada tanggal 16 Januari 1960 meninggal pada tanggal 24 Agustus 2021 pada jam 07.00 am ia telah berpulang di asuh oleh yang maha asuh dan kasih sayang, meninggalkan istri tercinta dan seorang anak. Di karena sakit tumor di telinganya beliau wafat dengan tenang di RS UB Malang.
KENANGAN YANG TETAP HIDUP
Catatan kecil Cipit Darmono, salah satu anggota DIAZ yang merasakan langsung kehadirannya:
"Tahun 2007 adalah saat aku pertama kali mengenal Mas Dodik dan DIAZ. Setelah upacara pengukuhan dan penutupan pelatihan, aku sempat bertanya dalam hati: siapa sebenarnya orang ini? Ternyata ia bukan anggota resmi DIAZ, tapi jasa-jasanya bagi organisasi ini tak terukur. Hingga detik ini pun, aku masih merasakannya. Beliau adalah guru, sosok yang berbakti demi tegaknya kegiatan penjelajahan goa di DIAZ.".
Dari caving lah banyak hal tumbuh. Teknik akses rope yang kini dipakai secara profesional di ketinggian—rope access—90% metodenya diadopsi dari sistem SRT frog yang dipelajari saat menjelajah goa. "Manfaatnya sungguh nyata," kata Cipit. "Aku belajar teknik, belajar bermasyarakat, belajar kesabaran, dan melatih mental menghadapi masalah. Semua itu berguna bukan hanya saat di goa, melainkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja. Itulah salah satu buah dari apa yang beliau ajarkan.". Beberapa anggota Diaz atas rekomendasi dan dukungannya untuk mengikuti pelatihan guna mendapatkan sertifikat instruktur caving.
Mas Dodi sosok yang unik: berpikir di luar kebiasaan, humoris, tak selalu mengajarkan teknik secara langsung, melainkan menitipkan banyak trik dan panduan lewat percakapan dan teladan. Salah satu nasihatnya pernah menyelamatkan nyawa Cipit. Saat menjelajahi Goa Banyu di Malang Selatan, Cipit menjadi koordinator rombongan—dan tiba-tiba mereka terjebak banjir. Pintu masuk nyaris tertutup air. Di momen tegang itulah kata-kata Mas Dodi muncul kembali: "Tenang, jangan panik. Cari lorong atau ruangan yang luas, dan tunggu sampai air surut kembali." Ia menuruti nasihat itu, dan selamat. Pengalaman kedua terjadi di Yogyakarta, saat pendidikan penjelajahan goa. Banjir bandang datang tiba-tiba; selama empat jam ia terjebak di bawah air terjun. Ia selamat—berkat trik dan panduan yang pernah diajarkan Mas Dodik.
Beliau tak pernah kaku. Berani mengakui bahwa zaman berubah, bahwa teknik generasi muda kini makin berkembang pesat. "Kalian sudah jauh lebih maju," katanya. Namun tetap, pengalaman dan jasa beliau tak akan tergantikan. Tak pernah menuntut balas atau pujian—cukup melihat teman-temannya terus mencintai dan mengembangkan caving, itulah kebahagiaannya. Setiap kali pulang dari goa, beliau selalu ada: bertanya, mendengarkan antusias, sesekali menyisipkan cerita pengalamannya sendiri.
Ia telah pergi selamanya, tapi semangatnya tetap mengalir, seperti air yang selalu mencari jalan. Dan setiap kali kita turun ke goa, setiap kali tali terpasang dengan kokoh, di sanalah kita merasakan: Mas Dodi masih ada di antara kita.
Viva DIAZ


