Lompat ke konten

Kegiatan

Survival Kids Part 2 Tim Elang Muda Adventure di Coban Putri

Oleh 4 menit baca
Sekelompok anak-anak mengenakan helm merah berkumpul di jalur hutan selama kegiatan petualangan outdoor yang dipandu oleh instruktur.

Salah satu dari orang tua ibu Ruth dari Malang berkata " kita sebagai orang tua butuh permodelan tentang kegiatan outdoor dengan berbagai kurikukum yang berjenjang sehingga sangat memungkinkan anak punya tempat pembelajaran alternatif. Dan berharap tumbuh komunitas untuk kebaikan bersama agar bisa memperkuat jaringan parenting kegiatan alam orang tua dan anak lainya "

Minggu, 18 Oktober 2026

Coban Putri — Pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, kawasan alam Coban Putri Batu menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan luar ruangan bertajuk Survival Kids Part 2 yang diselenggarakan oleh Tim Elang Muda Adventure. Sebanyak 12 orang anak dengan usia 5-10 tahun semua peserta berkumpul sejak pagi untuk mengikuti rangkaian petualangan edukatif berdurasi sekitar 4‑5 jam, yang dirancang bukan hanya untuk bersenang‑senang, melainkan juga melatih keterampilan dasar bertahan hidup, keberanian, pengendalian emosi, dan semangat kerja sama di tengah lingkungan alam terbuka.

Di tengah masa sekarang di mana sebagian besar anak tumbuh dalam lingkungan yang selalu nyaman, dengan segala kebutuhan yang seringkali langsung dipenuhi orang tua, Tim Elang Muda Adventure melihat perlunya ruang‑ruang aman bagi anak untuk keluar dari zona nyaman. Kegiatan ini tidak bertujuan untuk menghadirkan bahaya, melainkan memberikan tantangan‑tantangan terukur guna melatih apa yang disebut tim sebagai “sistem peringatan dini” dalam diri anak: kemampuan merasakan keadaan sekitar, menenangkan diri saat cemas, berpikir jernih, dan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga. Seluruh materi dan jalur kegiatan telah dipelajari terlebih dahulu oleh para instruktur agar tetap aman dan disesuaikan dengan usia, kondisi fisik, serta kesiapan emosi setiap peserta.

Kegiatan dibuka dengan presentasi kegiatan kepada orang tua secara lengkap mulai dari kelebihan dan resiko. bahkan ada salah satu orang tua menanyakan latar belakang mentor. Para mentor pun menjawa dari Opa DIAZ dengan pejelasan sedikit kegiatan-kegiatan DIAZ sekaligus sebagai induk dari anak elang advanture

Selanjutnya sesi team‑building yang santai namun bermakna. Dalam berbagai permainan kelompok, anak‑anak saling mengenal satu sama lain, berbagi tawa, dan mulai membangun rasa percaya sebagai teman seperjuangan. Di sini ditanamkan pemahaman bahwa di alam, tidak ada yang sebaiknya menghadapi tantangan sendirian. Setelah ikatan kelompok terbentuk, rangkaian tantangan utama pun dimulai.

Tahap pertama adalah  rappelling di lereng tanah yang cukup menantang. Semua peserta mengenakan perlengkapan pengaman lengkap dan dipandu langsung oleh instruktur‑instruktur berpengalaman. Bagi sebagian anak, momen ini memunculkan rasa takut dan ragu‑ragu. Namun dengan bimbingan perlahan‑lahan, mereka belajar mengatur napas, menenangkan pikiran, serta mempercayai perlengkapan dan pendamping di sekitarnya. Keberhasilan setiap penurunan menjadi bukti kecil bahwa mereka mampu melampaui ketakutan yang sempat muncul.

Selanjutnya adalah tahap simulasi tersesat di alam, yang menjadi inti pembelajaran Survival Kids. Dalam skenario yang sudah diatur aman, para peserta diajak merasakan bagaimana rasanya berada di lingkungan yang belum dikenal. Mereka dipandu untuk mempraktikkan langkah‑langkah dasar bertahan hidup: mulai dari prinsip utama menenangkan diri dengan berhenti sejenak, menarik napas dalam‑dalam, mengamati keadaan, lalu menyusun rencana; belajar mengenali penunjuk arah alami dari sinar matahari, aliran sungai, dan bentuk pepohonan; berlatih membaca kompas untuk menentukan arah mata angin; mendirikan tempat berlindung sederhana dari flysheet; mempelajari cara mencari sumber pangan melalui aktivitas menjaring ikan, hingga mempraktikkan cara membuat perapian kecil dan mengolah serta membakar ikan hasil tangkapan dengan jaring . Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan ketat untuk menjaga keamanan peserta.

Setelah kebutuhan dasar dalam simulasi terpenuhi, kelompok mulai memasuki tahap perjalanan pulang. Mereka menyusuri rute yang memiliki rintangan‑rintangan ringan seperti memanjat tebing pendek dan menyusuri aliran sungai kecil, tetap di bawah pantauan tim pendamping. Di sepanjang aliran sungai tersebut, diadakan prosesi pelepasan ikan kembali ke alam. Momen ini menjadi pelajaran penting bahwa alam bukan hanya tempat untuk mengambil manfaat, melainkan juga perlu dijaga dan dihormati agar ekosistem tetap seimbang. Para anak diajak merasakan makna rasa syukur dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan momen Sayonara, yaitu sesi berkumpul bersama para orang tua. Di area istirahat, anak‑anak dan keluarga duduk bersama untuk makan bersama, dilanjutkan sesi berbagi cerita.

Salah satu dari orang tua ibu Ruth dari Malang berkata " kita sebagai orang tua butuh permodelan tentang kegaiatan outdoor dengan berbagai kurikukum yang berjenjang sehingga sangat memungkinkan anak punya tempat pembelajaran alternatif. Dan berharap tumbuh komunitas untuk kebaikan bersama agar bisa memperkuat jaringan parenting orang tua dan anak lainya "

Ibu laila sidoarjo juga mengatakan " sangat penting melatih anak survival Sebagai bekal sehari hari untuk mandiri ketika orang tua bepergian "

Para peserta dengan suka cita menceritakan pengalaman mereka, ketakutan yang berhasil dihadapi, serta hal‑hal baru yang mereka temukan selama petualangan.

Tim Elang Muda Adventure mengingatkan para orang tua untuk mendengarkan dengan penuh perhatian, serta tetap memperhatikan kondisi emosi anak setelah kegiatan, karena ada kemungkinan beberapa anak merasakan dampak emosional yang perlu mendapatkan keseimbangan dari orang‑tua di rumah.

Tim Elang Muda Adventure juga menyampaikan ucapan terima kasih sebesar‑besarnya kepada seluruh Bapak, Ibu, dan para anak peserta yang telah hadir dan berbagi pengalaman selama kegiatan di Coban Putri. Tim membuka ruang seluas‑luasnya bagi para orang tua untuk memberikan masukan, ide‑ide segar, serta berbagi tautan atau referensi inspiratif di grup wassp , guna membantu tim menyusun tahapan pembelajaran yang lebih baik, bertahap, dan penuh inovasi untuk seri Survival Kids berikutnya.

Diharapkan pengalaman yang telah dilalui dapat dibawa pulang sebagai bekal hidup: agar anak‑anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang saat menghadapi masalah, lebih mandiri, berani mencoba hal baru, terbiasa bekerja sama, peduli terhadap alam, dan menyadari bahwa di dalam diri mereka tersimpan kekuatan yang lebih besar dari yang selama ini mereka kira.

Tim Survival Kids

Elang Muda Adventure

Viva DIAZ

Komentar

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar. Masuk sekarang

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi artikel ini.