Obituari
Pulang ke Kampung Halaman Sejati dengan Kesetiaan Sampai Akhir

Mengenang Urip Lakasana DKP (1969 – 2024)
Sepanjang perjalanan hidupnya di dalam organisasi DIAZ, Urip Lakasana DKP selalu dikenal sebagai sosok yang memiliki karakter kuat. Hal itu tampak dari ciri‑ciri fisiknya wajah yang mungil ganteng , langkah berjalan yang lincah seolah sedang berlari kecil. Dari penampilan itu pun orang‑orang dapat melihat wataknya yang sat‑set, lugas, tegas, dan penuh kelincahan.
Urip masuk ke dalam organisasi pecinta alam DIAZ pada tahun 1990 dengan nomor induk. D.13959.EJ serta menempuh pendidikan hingga jenjang SLTA di Muhammadiyah 7, Jalan Sumbersari, Kota Malang. Dalam kehidupan keluarga, ia memiliki seorang istri beserta tiga orang anak, dan selama bertahun‑tahun menetap di Jalan Sumbersari. Akhir hayatnya tiba meninggal di Jalan Rampal setelah berjuang melawan penyakit selama dua tahun.
Sejak pertama kali bergabung, Urip dikenal sebagai anggota DIAZ yang disiplin dan selalu hadir dengan penuh semangat dalam setiap kegiatan organisasi. Melalui keikutsertaannya itu, terbentuklah watak, mental, dan kepribadiannya banyak nilai‑nilai penting yang ia peroleh dari DIAZ: kerendahan hati, ketangguhan bertahan hidup, semangat berkreativitas, serta makna berbagi kepada sesama. Dari sanalah ia tumbuh menjadi pribadi yang matang secara mental, hingga menjadi salah satu kader terbaik yang dimiliki organisasi DIAZ. Hampir separuh usia hidupnya ia curahkan untuk mengabdi kepada organisasi ini.
Di dalam perjalanan panjang keorganisasiannya, pernah dipercaya menjabat sebagai sekretaris, kemudian menjabat sebagai Ketua DIAZ pada periode 1993. Selama memimpin, ia menjalankan roda organisasi dengan penuh rasa tanggung jawab, dan berhasil membawa kemajuan bagi DIAZ di masanya. Bahkan ketika berbagai persoalan sulit datang menguji organisasi, ia tetap teguh dan konsisten, tidak berhenti berusaha mencari jalan keluar terbaik.
Dedikasinya sungguh tak terukur. Hingga memasuki usia 56 tahun, di masa‑masa akhir hayatnya saat penyakit mulai melemahkan tubuhnya, ia masih menyempatkan diri mengikuti kegiatan‑kegiatan DIAZ. Keteguhan hati dan perjuangannya itu dijalani di tengah keterbatasan harta dan fisik akibat sakitnya. Pekerjaan terakhirnya sebagai pengemudi ojek daring menjadi mata pencaharian sederhana untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari jaringan pertemanan yang luas dengan rekan‑rekan di lingkungan pemerintahan, partai politik, maupun dunia perusahaan, Urip berhasil membuka banyak peluang untuk DIAZ. Ia berusaha memperkuat eksistensi organisasi, bahkan pernah mengajukan usulan sehingga organisasi mendapatkan bantuan pemerintah melalui program JASMAS. Berkat bantuan tersebut, roda organisasi dapat terus berjalan dengan baik hingga sekarang.
Sebagai seorang penjelajah alam, Urip memiliki pandangan sendiri: kekayaan yang sesungguhnya bukanlah harta benda yang dapat disimpan, melainkan kesetiaan dan pengabdian. Ia berjuang agar DIAZ tumbuh menjadi organisasi yang baik, sehat, dan bermanfaat bagi banyak orang semangat yang sama dengan semangatnya saat menjaga kelestarian alam dan membina para anggota agar menjadi pribadi yang berdaya.
Dengan hati yang tulus ia melayani organisasi, tak pernah ragu hadir dalam berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar lingkungan DIAZ. Bersama rekan‑rekannya ia melewati banyak perjalanan alam: pendakian gunung, penelusuran hutan, hingga kerja bakti menjaga kelestarian lingkungan dan mengikuti SAR di Malang raya. Di sela‑sela perjalanan itu, ia senantiasa membagikan nilai‑nilai persaudaraan yang kemudian juga ia bawa ke setiap kegiatan keorganisasian. Baginya, menjaga alam, menjaga kebersamaan, dan berorganisasi adalah tiga hal yang saling terhubung, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Pada hari Selasa siang, putra terbaik DIAZ itu pun dipanggil pulang oleh Sang Maha Pengasuh dan Pengasih. Hampir separuh usianya telah ia tumpahkan untuk DIAZ. Warisan yang ia tinggalkan adalah nilai‑nilai dedikasi, loyalitas, sikap mengayomi sesama,kreatifitas ide gagasan dan semangat pengorbanan.
Kini ia pulang ke kampung halaman yang sejati, menuju keabadian, dengan kesetiaan yang bertahan sampai akhir. Jejak langkahnya akan tetap hidup dalam ingatan setiap anggota DIAZ dan semua sahabat yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, Mas Urip. Terima kasih atas seluruh pengabdianmu.
Viva DIAZ


