Sastra
Ratapan Ibu

Bagian pertama Trilogi Ibu Bumi: wajah perempuan yang retak seperti tanah kering di bawah mahkota bunga layu, digoreskan dengan arang sisa pembalakan liar Malang Selatan dan noda kopi.
Bagian 1 dari 3 · Trilogi Ibu Bumi. Lanjut ke bagian kedua: Ambang Sunyi Ibu →
Di antara mahkota bunga yang layu keemasan, wajah seorang perempuan retak seperti tanah yang lama tak tersentuh hujan. Inilah Ratapan Ibu, karya terbaru Tientus Sudarto — salah satu Sahabat DIAZ — yang mengangkat isu kerusakan lingkungan lewat bahasa visual yang sunyi namun menusuk.
Sosok yang digambarkan bukan sekadar perempuan. Ia adalah Ibu Bumi: rahim kehidupan yang keindahannya terus dipeluk dan dipuja, sementara tubuhnya perlahan dihabiskan. Retakan yang menjalar dari wajah hingga leher bukan ledakan amarah, melainkan jejak peradaban yang tumbuh dengan cara merusak — sebuah eksploitasi yang, dalam kata-kata sang seniman, “intim”.
Yang membuat karya ini lebih dari sekadar ilustrasi adalah bahan yang dipakai untuk membuatnya. Warna hitam pada retakan itu bukan tinta atau cat, melainkan arang dari sisa kayu hasil pembalakan liar di Malang Selatan — dikumpulkan dan digoreskan langsung ke atas kertas. Warna cokelat pada mahkota bunga berasal dari noda kopi. Media itu sendiri menjadi bagian dari isu yang dibicarakan: kerusakan hutan tidak digambarkan dari luar, tapi dihadirkan sebagai bahan baku karyanya sendiri.
Menyertai lukisan ini, Tientus menuliskan puisinya:
Ratapan Ibu
Adalah duka yang tak berhenti bersuara, mencari telinga.
Sosok ibu dalam karya ini adalah Ibu Bumi — rahim kehidupan yang keindahannya dipeluk, sementara tubuhnya perlahan dihabiskan.
Retakan di wajahnya bukan ledakan amarah, melainkan jejak peradaban yang tumbuh dengan cara merusak.
Sebuah eksploitasi yang intim.Ia berteriak dalam diam.
Sebab luka ini dibungkus oleh kata kemajuan, dirayakan sebagai kebutuhan, dan diterima sebagai kewajaran. Alam disebut indah, namun diperlakukan sebagai sesuatu yang boleh habis.
Ratapan itu menetap sebagai nyeri yang sunyi — ketika kehancuran tak lagi terasa kejam, karena telah menjadi biasa.Wajarkah?
Pertanyaan penutup itu — “Wajarkah?” — adalah inti dari keseluruhan karya. Ia tidak diajukan sebagai jawaban, melainkan sebagai jeda: sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan apa yang selama ini kita terima sebagai kewajaran, ketika kerusakan alam berubah menjadi latar yang biasa saja untuk dilihat.
Ratapan Ibu ditampilkan sebagai bagian dari kontribusi Sahabat DIAZ untuk mendokumentasikan suara-suara yang merespons isu lingkungan dari berbagai medium — kali ini, lewat guratan tangan di atas kertas.
Spesifikasi karya
- Media: Charcoal and coffee stain on A4 natural paper.
- Warna hitam: arang dari sisa kayu pembalakan liar, Malang Selatan.
- Warna cokelat: noda kopi.
Trilogi Ibu Bumi
Tiga karya Tientus Sudarto yang dibaca berurutan, dari ratapan, ke sunyi, hingga sisa-sisa:
- Ratapan Ibu — luka yang masih mencari telinga (bagian ini)
- Ambang Sunyi Ibu — luka yang memilih diam
- Ibu, di Sisa-Sisa — luka yang nyaris tak bersisa untuk didengar sama sekali
- Sahabat DIAZ
- Seni Rupa
- Puisi
- Lingkungan
- Ibu Bumi
- Trilogi Ibu Bumi
Viva DIAZ