Sastra
Ibu, di Sisa-Sisa

Bagian penutup Trilogi Ibu Bumi: tubuh yang luruh menjadi akar kering di atas tanah pecah, dengan satu tangan masih terangkat agar Ibu sempat diingat.
Bagian 3 dari 3 · Trilogi Ibu Bumi. Dimulai dari Ratapan Ibu, lalu Ambang Sunyi Ibu.
Rangkaian ini sampai pada penutupnya. Dari Ratapan Ibu yang masih berteriak dalam diam, ke Ambang Sunyi Ibu yang memilih membisu, kini Tientus Sudarto — Sahabat DIAZ — membawa sosok yang sama ke titik paling akhir lewat karya ketiganya, Ibu, di Sisa-Sisa.
Tubuh yang dahulu retak kini luruh sepenuhnya. Sayap yang membentang di belakangnya bukan lagi bulu, melainkan jalinan urat dan serat yang compang-camping ditiup angin. Separuh tubuh bagian bawah telah menyatu dengan tanah — mengurai jadi akar-akar kering yang kusut, koyak, dan berlubang, seolah sebagian dari dirinya telah diambil paksa. Tanah tempatnya berpijak pun pecah oleh kekeringan yang sama seperti yang menjalar di tubuhnya pada dua karya sebelumnya.
Namun di tengah keruntuhan itu, satu tangannya masih terangkat ke langit — jemarinya menggeliat seperti ranting, tapi tetap terulur. Bukan gerak untuk bertahan hidup, tulis Tientus, melainkan gerak terakhir agar keberadaannya tidak sepenuhnya hilang tanpa disaksikan.
Berikut puisi yang menyertai karya ini:
Ibu, di sisa-sisa
Ia tak lagi meratap, tak pula berdiri di ambang sunyi.
Ibu tetap tinggal, di antara tubuh yang luruh dan akar koyak yang berusaha menggenggam hidup.Sebagian tubuhnya telah diambil oleh tangan yang menamai perusakan sebagai kebutuhan boleh habis.
Tangan yang lupa bahwa kasih Ibu tak pernah diminta, hanya diserahkan.
Pun tanah sandarannya mulai pecah oleh acuh, oleh langkah berlalu tanpa pernah mau tahu, tanpa malu.Namun di sisa-sisa itu, Ibu masih menyimpan napas terakhir di sela luka.
Bukan untuk hidup, melainkan untuk memberi ruang agar Ia diingat sebelum benar-benar menghilang.
Tiga karya, satu perjalanan yang sama: dari luka yang masih mencari telinga, ke luka yang memilih diam, hingga luka yang nyaris tak bersisa untuk didengar sama sekali. Ibu, di Sisa-Sisa tidak menutup dengan harapan yang mudah — ia menutup dengan permintaan yang paling sederhana dan paling berat sekaligus: agar Ibu, sebelum benar-benar hilang, sempat diingat.
Spesifikasi karya
- Media: Charcoal and coffee stain on A4 natural paper.
- Warna hitam: arang dari sisa kayu pembalakan liar, Malang Selatan.
- Warna cokelat: noda kopi.
Trilogi Ibu Bumi
Tiga karya Tientus Sudarto yang dibaca berurutan, dari ratapan, ke sunyi, hingga sisa-sisa:
- Ratapan Ibu — luka yang masih mencari telinga
- Ambang Sunyi Ibu — luka yang memilih diam
- Ibu, di Sisa-Sisa — luka yang nyaris tak bersisa untuk didengar sama sekali (bagian ini)
- Sahabat DIAZ
- Seni Rupa
- Puisi
- Lingkungan
- Ibu Bumi
- Trilogi Ibu Bumi
Viva DIAZ