Keilmuan
INVASI ALIEN YANG NYATA
This language version is not available yet. The text below is shown in its original language.
Invasi alien sudah memakan banyak korban serta merusak tatanan hidup alam dan manusia. Kita harus segera bertindak, berperang melawan mereka karena kita adalah manusia. Dari planet manakah alien itu berasal ? Sejak kapan mereka datang ? Seperti apakah alien - alien itu ? dan apa yang bisa kita lakukan jika peluru tidak bisa membunuh mereka ?
Hola cacak/mbak yu Komandan – VIVA DIAZ !!!
Pada artikel kali ini, kita akan berdiskusi soal masalah ekosistem alam indonesia yang semakin lama mungkin akan terdengar semakin miris untuk sadari. Bukan soal limbah, polusi atau kerusakan masif yang datang akibat teknologi modern, namun sesuatu yang mungkin jarang masyarakat bahkan kita sendiri sadari. Invasi alien.., “anda tidak salah baca” kita akan membahas alien yang merusak tatanan kehidupan alam dan manusia. Tapi, seperti apakah alien itu ? Kapan mereka datang ? dari planet mana mereka berasal ? dan apa yang bisa kita lakukan ? semua akan kami bahas dalam artikel yang mungkin sedikit panjang ini. Itung – itung bisa menjadi bahan bacaan anda ketika sedang dalam perjalanan dengan transportasi umum atau hanya sekedar mengisi waktu luang yang lain. Artikel ini ditulis atas dasar keresahan hati pribadi penulis dan bertujuan untuk edukasi kepada masyarakat luas Indonesia.
Perlu diketahui bahwa, artikel ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa bantuan dari berbagai pihak. Ucapan terimakasih penulis berikan kepada :
Ketua Umum OPA DIAZ Redy Apriyadi – D. 139140 Elang Borneo
Seluruh Jajaran Pengurus OPA DIAZ
Yoga Ahmad Alauddin – D. 139.2024.33.12 Elang Bondol
Muhammad Fauzi - D. 139176 Elang Bondol
Seluruh Keluarga Besar OPA DIAZ
Serta seluruh pihak yang membantu penulisan ini yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu.
BAB I – PROLOG
ALIEN ?
Mungkin yang akan terbayang dalam pikiran kita bila menyebut "invasi alien" adalah datangnya pesawat - pesawat antariksa dari langit yang mampu menempuh jarak intrastelar dengan kecepatan cahaya sekitar 300.000 Km/s. Lalu mereka turun dari pesawat - pesawat itu dengan membawa senjata - senjata asing yang jauh lebih canggih dan mulai melakukan pembantaian terhadap penduduk Bumi. Di momen itu, manusia yang mendapat ancaman kepunahan mulai mengangkat senjata untuk mempertahankan setidaknya populasinya. Meski kita akan tahu, tiada senjata kita yang cukup ampuh untuk membunuh mereka bahkan sang legendaris AK-47 sekalipun. Saat - saat kritis itu, tiada lagi istilah membela negara, nasionalisme atau iedeologi sepertu fasisme, komunisme bahkan dan tapi manusia sedang berjuang mempertahankan "spesiesnya" supaya tidak punah.
Tentu untuk membayangkan hal itu akan terjadi pada manusia dan pada bumi, masih terlalu khayal dan imajinatif. Namun, sebenarnya tanpa kita sadari invasi alien telah berlangsung bahkan di sekitar kita. Tanpa rentetan letusan senapan AK-47, M-16, Mortir, Granat, atau senjata canggih yang sembunyikan CIA, invasi sudah banyak menelan korban. Bahkan diantara mereka yang menjadi korban saat ini sedang menjerit putus asa menanti kepunahan atau mungkin telah menerima dirinya jika tiada akan datang seekor betina atau jantan yang dapat diajak melanjutkan generasi selanjutnya karena dirinya adalah satu satunya yang tersisa di Bumi yang luas ini.
“Jadi, seperti apa alien itu ?”
Seperti apa ? apakah ia berupa makhluk bertentakel dan berlendir di sekujur tubuhnya dengan pola reproduksi aneh ? atau berupa entitas humanoid berkepala lonjong, bermata besar dan kulit berwarna hijau yang turun dengan piring terbangnya ?, atau lebih seram lagi, mereka menyamar menjadi makhluk bumi dan disembunyikan oleh elit global atau organisasi rahasia pemerintah seperti Men in Black ?
Jawabannya adalah “tentu saja tidak”, secara implisit mungkin iya, tapi secara teknis alien yang saya maksud disini bukan yang seperti itu. Dalam dunia biologi, alien atau “spesies alien” memiliki arti yang lebih ke - “pendatang”. Makhluk atau spesies dari sebuah wilayah pada suatu belahan bumi yang kemudian datang dan menetap di wilayah atau belahan bumi yang lain (baru) disebut dengan spesies alien. Sederhananya, mereka seperti orang kulit putih yang berlayar ke benua Amerika kemudian menetap disana dan berinteraksi dengan penduduk lokal suku Indian.
INVASI
Mungkin akhir - akhir ini bila anda suka dengan pembahasan yang erat kaitannya dengan lingkungan, sudah sering mendengar kata "invasif". Dalam sejarah manusia, invasi dilakukan oleh sebuah negara atau bangsa kepada negara lain. Tujuannya sangat bervariasi, ada yang melakukan invasi karena untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan, ada juga yang bertujuan untuk menjajah dan membangun kekayaan di negeri asalnya, ada juga yang bermaksud menjadikan sebuah negara semacam benteng pelindung untuk menghambat invasi lain dari negri musuhnya seperti Rusia - Ukraina saat ini, dan masih banyak lagi. Namun, pengertian dari invasi menurut saya terbagi atas 2 kata kunci yakni, Datang dan Menguasai lalu dari kata "menguasai itu timbulah dampak.
Begitu pula seperti yang menjadi pembahasan utama kita pada artikel ini. Spesies asing datang dari sebuah wilayah lalu menguasai wilayah baru sehingga berdampak pada kehidupan lokal. Penyebabnya, hampir selalu bermula dari spesies yang dikatakan paling bijaksana yaitu manusia (Homo sapiens). Setelah alien itu datang, tempat yang baru sangat berbeda dari tanah aslinya, sebelumnya mereka punya predator yang selalu mengancam, atau sebelumnya secara makanan mereka bersaing dengan spesies lain, tapi ditempat baru lingkungan tidak meberikan kesempatan pada mereka untuk mendapat tantangan.
Agar lebih mudah, bayangkan saja seperti ini :
Anda dengan keringat anda sendiri membangun rumah dari nol, tiap bulan anda menabung untuk membangun proyek rumah yang bagus dan sesuai dengan keinginan anda. Ketika rumah itu sudah jadi, anda sangat bahagia hidup disana, perabotan lengkap, lingkungan yang damai dan segala kenyamanan didalamnya. Hingga suatu hari, seseorang yang anda kenal datang dan meminta izin untuk menginap karena suatu hal, dan anda mengizinkannya karena rasa kasihan. Lalu semakin lama ia tinggal, ia tidak segera mencari tempat tinggal baru, ia menumpang dirumah anda dan mulai terbuai dengan kenyamanannya. Lebih lama lagi, ia mulai tidak tahu diri, anda melihat kulkas yang kosong karena teman anda itu ikut memakannya, anda melihat rumah yang mulai tidak rapih dengan bekas makanan dimana mana. Rumah yang awalnya anda bangun, sudah tidak lagi menjadi ekslusif milik anda, peraturan yang anda buat sendiri mulai rusak sedangkan teman anda yang menumpanglah yang menjadi peraturan. Cukup bikin jengkel bukan ?
Tapi sebelum terlalu jauh, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu mengenai 2 istilah ini, yakni spesies lokal/natif dan spesies endemik. Spesies lokal/natif adalah spesies yang memang hidup di suatu wilayah secara alami dan telah turut andil dalam kelangsungan ekosistem sejak sangat lama. Sedangkan spesies endemik adalah spesies yang hanya ada atau hidup pada satu wilayah di bumi dan tidak ditemukan di wilayah lain. Sederhananya, spesies endemik adalah spesies lokal, namun spesies lokal tidak selalu spesies endemik.
Indonesia memiliki banyak sekali spesies endemik, Jalak Bali di Bali, Komodo di NTT, Cendrawasih di Papua dan masih banyak lagi. Mereka adalah penghuni asli wilayahnya yang sangat rentan mengingat jumlahnya yang hampir selalu terbatas karena adaptasi terhadap lingkungannya yang cukup kompleks. Kedatangan alien yang invasif bisa mengancam populasi mereka, menciptakan pesaing makanan baru bahkan predator baru dan hal ini sudah banyak terjadi. Jadi, mungkin bila saya gunakan analogi yang diatas, spesies endemik atau asli akan bernasip seperti anda si pemilik sah rumah itu atau bahkan lebih buruk lagi.
“Spesies invasif bertindak sebagai pemulung alam, menetralkan kekuatan yang seharusnya mereka promosikan (saat ekosistem asli terganggu)”
-Fred Pearche-
BAB II – BAGAIMANA ALIEN MENJADI INVASIF
Ada banyak cara mengenai bagaimana suatu spesies bisa datang ke tempat atau wilayah lain lalu menjadi invasif, namun seperti yang dikatakan sebelumnya, manusia adalah faktor utama. Bagaimana tidak, manusia sendiri adalah makhluk paling “invasif” di muka bumi. Kita pernah membahasnya pada artikel lain di website ini yang berjudul Kisah Para Elang : Penguasa Langit Kuno dimana beberapa elang purba semakin menghilang dari langit setelah migrasi atau kedatangan manusia di wilayah dimana elang itu tinggal. Haliaeetus sp. misalnya, elang purba itu semakin tak terlihat seiring meningkatnya aktivitas manusia.
Namun, tentang suatu makhluk bisa datang dan invasif pada sebuah wilayah pada dasarnya telah didiskusikan para ilmuan sejak lama. Salah satu tokoh yang membahasnya adalah Charles Darwin dalam bukunya yang kontroversial yakni On the Origin of Species. Darwin sempat membahas tentang bagaimana suatu makhluk berpindah dan berpotensi menguasai jika tidak ada pesaing alami. Ia berpendapat :
"Lack of competitive exclusion would facilitate the establishment of alien invaders phylogenetically distinct from the native flora"
"Kurangnya eksklusi kompetitif akan mempermudah terbentuknya spesies invasif asing (alien) yang secara filogenetik berbeda dengan flora asli"
Mari kita ambil contoh dari kasus lama yakni invasi tikus hitam. Tikus hitam pada era penjelajahan laut oleh bangsa - bangsa Eropa pada abad ke -17 ikut menumpang dan berlayar bersama kapal - kapal dangang. Mereka bisa masuk ke kapal kemungkinan karena tertarik pada bekal makanan yang dibawa oleh para pelaut. Kapal - kapal dagang itu berlayar hingga sampai ke benua, daratan dan pulau - pulau baru. Setiap kapal berlabuh di sebuah daratan baru, tikus hitam dapat keluar dari kapal dan menetap disana. Kondisi lingkugan baru yang terasa lebih nyaman dari pada lingkungan sebelumnya memicu mereka untuk bereproduksi lebih cepat. Alhasil, populasinya meledak, menyebarkan penyakit yang belum dikenal oleh penduduk lokal dan menewaskan banyak nyawa, merusak hasil pertanian dan mendominasi ekosistem lokal. Dominasi itu dalam ekosistem akan menyingkirkan spesies lokal dan menekan populasi spesies endemik.
Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), spesies asing invasif atau invasife alien species (IAS) berpindah tempat atau masuk ke wilayah baru di luar jangkauan alaminya terutama melalui aktivitas manusia, baik secara sengaja (Intentional) maupun tidak sengaja (Unitentional). Mekanisme atau rute perpindahan ini dikenal sebagai Jalur Introduksi atau Introduction Pathways. Berdasarkan panduan dan basis data IUCN (termasuk di Global Invasive Species Databese), berikut adalah cara - cara utama bagaimana spesies invasif dapat berpindah tempat :
INTRODUKSI SENGAJA
Yang pertama adalah introduksi dengan sengaja, yakni ketika manusia secara sengaja memindahkan atau membawa suatu spesies dari satu belahan dunia ke belahan dunia yang lain, namun kemudian terlepas dari kontrol dan menjadi invasif. Manusia melakukan ini dengan beragam tujuan yang disebutkan oleh IUCN salah satunya adalah sebagai tanaman atau hewan hias karena dianggab eksotis. Hal ini seperti Amphilophus labiatus atau yang biasa juga disebut dengann Ikan Red Devil yang dibawa ke Indonesia untuk tujuan ikan hias, namun terlepas dan populasinya pun meledak di alam liar. Contoh lainnya adalah Pomacea canaliculata atau Keong Mas yang mulai dibawa ke Asia Tenggara untuk tujuan penguatan pangan dan masih banyak lagi.
INTRODUKSI TIDAK SENGAJA
Yang kedua adalah introduksi tidak sengaja, yakni ketika spesies berpindah tempat sebagai penumpang gelap (stowaways) atau kontaminan akibat dari tingginya mobilitas transportasi, perdagangan bebas, dan pariwisata global. Metode perpindahan ini banyak disebutkan lebih mengerikan karena seringkali penyebarannya tidak terdeteksi dan kita mulai menyadarinya ketika populasinya sudah meledak. IUCN juga menyebutkan ada beberapa cara, salah satunya seperti yang sudah dibahas sebelumnya mengenai penyebaran Tikus Hitam dari Benua Eropa. Contoh lainnya adalah melalui air ballas kapal, atau ketika kapal kargo besar menyedot air di pelabuhan asal sebagai penyeimbang muatan dan kemudian membuangnya di pelabuhan tujuan. Mikroorganisme, larva ikan dan kerang yang berukuran kecil bahkan berskala mikron itu lalu berpindah melintasi samudra dan kemudian menyebabkan masalah pada ekosistem lokal.
FAKTOR PENGUAT
Dari 2 faktor atau metoda diatas, metode perpindahan juga kerap kali didukung oleh faktor penguat yakni "perubahan iklim global". IUCN menyatakan bahwa perubahan iklim global turut mempermudah spesies asing ini untuk menetap (establish) dan menyebar lebih cepat. Suhu bumi yang menghangat membuka peluang wilayah baru yang dulunya terlalu dingin bagi spesies asing tersebut menjadi habitat baru yang ramah bagi mereka untuk berkembang biak secara masif.
BAB III – INVASI ALIEN DI INDONESIA
PEMULUNG AIR BERZIRAH – IKAN SAPU – SAPU
Ikan sapu - sapu - Sumber : detik.com
Ikan sapu - sapu atau ikan pembersih kaca atau sering juga disebut dengan "pleco" merupakan ikan air tawar yang mulai masuk ke Indonesia sejak tahun 1970-an melalui jalur perdagangan ikan hias dari wilayah Amerika Selatan. Ikan ini kemudian terlepas ke alam liar perairan Indonesia dan populasinya lalu meledak tidak terkontrol. Ikan satu ini merupakan salah satu dari spesies ikan asing di Indonesia yang paling merusak ekosistem lokal.
Bagaimana tidak, ikan sapu - sapu memiliki kemampuan unik bin luar biasa yang mendukungnya menjadi makhluk invasif. Ikan sapu - sapu adalah omnivora oportunistik atau sederhananya, ia tidak pilih - pilih makanan atau anyi - anyi (dalam bahasa jawa). Hampir semuanya dimakan, mulai dari alga, lumut, tumbuhan air dan mikroorganisme air yang juga dimakan oleh spesies lokal, bangkai, detritus organik (sisa-sisa bahan organik busuk dan endapan di dasar), hingga telur - telur spesies ikan lokal sendiri. Begitupula dengan karakternya, ikan sapu - sapu jantan menjadi sangat teritorial dalam menjaga telur - telurnya dengan menjadi agresif pada apapun yang mendekat bahkan betinanya sendiri. Selain itu, ikan alien ini juga merupakan ikan yang tahan banting, bukan sekedar dibanting masih hidup, "memang iya itu benar" karena kulitnya keras seperti zirah besi kesatria Eropa, tapi maksud saya adalah, ia juga bisa hidup di lingkungan dengan tingkat cemaran yang ekstrim.
Tidak berhenti disitu, adaptasi yang luar biasa itu juga ditunjukkan dengan ikan ini tetap dapat hidup tanpa air sampai sekitar 13 - 30 jam. Mungkin anda telah melihat salah satu vidio di kanal youtube ini (Lihat >>> ikan sapu - sapu hidup lagi setelah diberi air). Dalam vidio itu ditampilkan seekor ikan sapu - sapu yang sudah kering, kaku dan tidak terlihat ada tanda - tanda kehidupan sama sekali, kemudian hidup dan bergerak kembali setelah diberi air. Hal ini terjadi karena ikan sapu sapu memiliki pernafasan ganda, yakni kemampuan khusus untuk bernafas tanpa air dan pembuluh darah unik pada ususnya yang dapat mengikat oksigen. Dari sini saja, sepertinya kita bisa sepakat kalau ikan ini memang benar - benar seperti alien di film - film Hollywood.
Namun, di habitat aslinya, ikan sapu - sapu justru tampak seperti bukan "si antagonis". Alamnya yang tidak ramah, yakni Sungai Amazon, ikan sapu – sapu tidak diberikan kesempatan untuk berhenti waspada. Predator disana sangat banyak dan terus memberikan acaman pada mereka, ikan piranha, ikan arapaima, giant otter atau predator lainnya berperan seperti kontrol populasi alami. Sedangkan di Indonesia, kontrol semacam ini hampir tidak ada, dan jikalau ada kulit keras bak zirah tersebut membuat predator lokal kesulitan memangsanya atau memang tidak terbiasa memangsa ikan ini.
Tapi tunggu dulu, kenapa penulis disini hanya menyebutnya "ikan sapu - sapu", kenapa bukan nama latin seperti biasanya ?. Jawabannya adalah karena ikan sapu - sapu yang invasif di Indonesia tidak terdiri dari hanya satu spesies bahkan ada perbedaan di tingkat genusnya. Menurut Kompas.id setidaknya ada 2 genus ikan sapu - sapu yang invasif di Indonesia yakni genus Pterygoplichthys dan Hypostomus. Kemudian, dari 2 genus itu setidaknya masih terdiri dari 5 spesies, namun yang paling banyak dan paling dominan adalah Pterygoplichthys pardalis atau Amazon Sailfin Catfish.
Akhir - akhir ini ikan sapu - sapu banyak disorot karena sejumlah komunitas yang mulai merasa prihatin dengan kerusakan ekosistem sungai, melakukan pemusnahan masal. Namun, niat baik itu tidak selamanya direspon masyarakat dengan baik pula. Masih ada beberapa respon masyarakat media sosial yang justru bertanya "kenapa kok harus dimusnahkan, kasihan kan sama - sama makhluk tuhan, toh tidak berdampak pada kehidupan manusia". Maka, artikel ini seharusnya dibaca oleh mereka yang merespon dengan demikian. oleh karena itu mari kita tunjukkan dampak apa saja yang ditimbulkan alien ini :
EKOLOGIS
Ikan sapu – sapu seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas, ia adalah omnivora oportunistik yang hampir semuanya dimakan. Sayangnya, makanan ikan sapu – sapu tersebut sebagian juga merupakan makanan dari spesies lokal. Selain itu, telur – telur ikan lokal juga tidak luput dari menu santapannya. Hal ini menimbulkan biodiversitas pada perairan lokal menurun.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung misalnya, tercatat pada era kolonial menurut laman umj.ac.id terdapat 187 spesies ikan lokal. Namun, saat ini menurut laporan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hanya tersisa 15 ikan saja. Hal ini disebabkan oleh merebaknya spesies ikan invasif yang salah satunya adalah ikan sapu – sapu ini.
KERUGIAN FISIK LINGKUNGAN
Perilaku reproduksi ikan sapu – sapu yang unik juga menimbulkan masalah pada fisik lingkungan. Menurut Nisrina, dkk. (2026) ikan sapu – sapu memiliki kemampuan untuk menggali subtrat tanah untuk membuat sarang yang biasanya berada di pinggir -pinggir dan tebing singai. Perilaku ini dilakukan ketika induk ikan sapu – sapu bertelur dan tujuan untuk melindungi telur – telur tersebut dari ancaman. Namun, dalam skala yang masif, lubang -lubang sarang mereka dapat menyebabkan melemahnya struktur tebing tanah sehingga erosi atau pengikisan tanah oleh air dapat berlangsung dengan lebih cepat dari normalnya.
Sarang ikan sapu – sapu - Sumber : instagram.com
Lambat laun, erosi yang cepat dapat menyebabkan longsoran – longsoran kecil sehingga merubah bentuk sungai. Selain itu, infrastruktur bangunan yang ada di sekitaran sungai juga akan terancam. Hal ini sekaligus menciptakan ancaman bencana baru yang berdampak pada keselamatan masyarakat sekitar sungai.
DAMPAK EKONOMI
Tersingkirnya spesies ikan lokal menyebabkan meruginya nelayan karena menurunnya tangkapan yang bernilai ekonomis. Selain itu, ikan sapu – sapu yang memiliki kulit yang keras dan ada bagian tubuhnya yang tajam sering kali merusak jaring para nelayan lokal. Menurut laporan pakar dari IPB pada laman digitani.ipb.ac.id, invasi ikan sapu -sapu memicu kerugian ekonomi yang luar biasa. Tercatat dalam scenario moderat, kerugian akibat invasi ini di Indonesia diperkirakan mencapai Rp. 2,72 Triliun per-tahun, dengan sektor perikanan tangkap dan jasa ekosistem menjadi yang paling terdampak.
Jadi, masihkah kita harus tetap berfikir kalau invasi ikan ini ga ngaruh sama kehidupan manusia ?”
SI IBLIS DARI AMERIKA TENGAH – Amphilophhus labiatus
Sebelum masuk ke pembahasan utama, izinkan penulis sedikit bercerita…
Pada mulanya, saya hendak memancing di Waduk Karangkates, Kab. Malang. Peralatan sudah siap, berangkatlah saya dari sekretariat OPA DIAZ di Terminal Landungsari menuju spot memancing yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Begitu tiba dilokasi, umpan pertama saya lempar tidak terlalu jauh, waktu itu target utama saya adalah ikan tawes atau betutu sehingga udang adalah umpan yang saya pakai. Tidak butuh waktu lama, pelampung saya pun mulai sedikit tenggelam, dan ya.. sambaran pertama “STRIKE !!”. Joran diangkat, reel diputar dan ikan pun muncul ke permukaan yang ternyata adalah ikan red devil “Loh, bukannya ini ikan hias yang biasanya dijual di pasar splendid ?”, batinku. Umpan kedua saya lempar lagi, tapi hasilnya sama “Red Devil” dan begitupula di lemparan – lemparan umpan selanjutnya, hanya ada red devil. Hasil akhir memancing itu saya hanya mendapat 13 tangkapan dengan hanya ada 2 ikan tawes dan sisanya ikan red devil
Dari kejadian itulah rasa prihatin kemudian muncul. “Bagaimana bisa ikan yang biasa ada di akurium ada di sini?”. Sayapun mulai browsing di internet mengenai kejadian ini dan ternayata tidak hanya di Waduk Karangkates. Danau Toba juga mengalami masalah serupa, informasi yang saya dapat bahkan juga dialami di wilayah perairan tawar yang lainnya.
Okey, kembali ke laptop…
Red Devil atau A. Labiatus - Sumber : wikipedia.id
Menurut Laman mongabay.co.id, Ikan “Red Devil” atau A. labiatus merupakan ikan yang berasal dari Amerika Tengah, tepatnya di Kawasan perairan Danau Nikaragua dan Danau Managua di Negara Nikaragua serta aliran sungan San Juan di Kosta Rika. Ikan ini datang di Indonesia melalui jalur perdagangan dan memang seringkali diperjual belikan sebagai ikan hias akuarium. Salah satu faktor yang menyebabkan red devil kemudian berada di perairan lokal adalah dengan pelepasan liar oleh sejumlah oknum pemelihara.
Seperti ikan sapu – sapu sebelumnya, ikan ini memiliki karakter yang sangat agresif dan teritorial, hal ini menjawab kenapa umpan pancing saya sebelumnya hanya disambar oleh ikan red devil, mungkin umpan saya yang dasaran itu jatuh di teritorial mereka. Masih berdasarkan sumber dari laman mongabay.co.id, ikan Red Devil juga membuat lubang sebagai sarangnya serta mengusir ikan lain yang ada di sekitarnya. Hal ini berkaitan dengan sifat Parenting Care mereka yang patut diacungi jempol. Perilaku ini dilakukan secara berkelanjutan oleh kedua induk setelah telur menetas hingga anak – anaknya telah dianggab cukup kuat dan dapat bertahan hidup dengan mandiri. Mereka biasanya hidup di dasar perairan terutama di pinggiran danau berpasir.
Laju perkembangiakan ikan Red Devil sangat juga cepat. Pemijahan ikan ini berlangsung sepanjang tahun yang disebut dengan Continuous Breeder. Dalam sekali bertelur, betina dapat menghasilkan sekitar 600 hingga 4.000 ribu butir. Telur – telur tersebut sudah dapat menetas 3 - 4 hari setelah pembuahan. Tidak heran, kenapa populasi ikan ini bisa meningkat dengan sangat cepat.
Dampaknya secara ekonomi sudah jelas, hasil tangkapan para nelayan yang bernilai ekonomis terus berkurang seiring menurunnya populasi spesies ikan lokal. Ikan red devil memiliki kharakteristik rasa daging yang lebih hambar dibandingkan ikan – ikan lokal lainnya sehingga kurang diminati calon kosnumen. Hal ini juga sudah saya buktikan secara pribadi ketika saya mengolah hasil tangkapan memancing sebelumnya, dimana ikan red devil memiliki daging yang terdiri dari banyak tulang dan duri. Saya sendiri kesulitan dalam memakan ikan ini dengan tanpa ada duri yang menancap di gusi. Jumlahnya yang amat sangat banyak juga menjadi faktor kenapa ikan ini berharga murah di pasar.
Begitu pula dengan dampak ekologis yang diberikan, dominasi ikan red devil terus menyingkirkan spesies ikan lokal dan endemik. Di Danau Toba misalnya, Ikan red devil yang agresif dan teritorial memangsa larva, telur ikan asli, serta organisme dasar, membuat ikan endemik yakni ikan batak (Neolissochilus thienemanni) semakin langka. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa spesies endemik hampir selalu sedikit dan ikan batak sendiri telah dinyatakan terancam punah oleh IUCN sejak 1996.
Ikan batak atau Neolissochilus thienemanni - Sumber : isw.co.id
Namun, kita sendiripun juga tidak boleh menutup mata soal polusi limbah di Danau Toba. Dominasi ikan red devil disana juga berkaitan dengan cemaran air yang kian meningkat. Ikan endemik seperti ikan batak, memiliki adaptasi lingkungan yang kompleks dan khas. Sedangkan ikan red devil memiliki daya tahan atau toleransi terhadap cemaran lebih tinggi.
PENJAHAT YANG DICINTAI - Oreochromis niloticus
“Penjahat yang dicintai” begitulah saya memberikan gelar pada ikan alien yang satu ini. Bukan tanpa alasan, nyatanya masyarakat justru mencintai ikan ini meskipun memberikan masalah ekologis yang luar biasa. Sangking dicintainya, ikan invasif ini membuat beberapa orang mengalihkan pandangan untuk melihat kerusakan yang ditimbulkannya. Bahkan, para oknum pemancing yang mungkin tidak tahu sering mengharapkan ikan ini untuk ada di sungai dan menjadi sasaran tangkapan.
Ikan nila atau Oreochromis niloticus menurut Hafidz dan Sil Vallen (2024) adalah teleostei dari keluarga Cichlidae yang merupakan spesies ikan yang berasal dari Afrika Utara dan Timur. Habitat asli utama ikan nila berada di aliran Sungai Nil serta perairan tawar seperti Danau Tangayika dan Danau Chad. Nama "Nila" sendiri diambil dari nama sungai ketika pertama kali ditemukan yakni Sungai Nil (Nile Tilapia).
Ikan nila masuk di Indonesia pada tahun 1969 melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar dari Afrika Timur. Menurut Ramadhanu, dkk. (2023) Spesies ini awalnya diintroduksikan untuk meningkatkan produksi perikanan dan memenuhi kebutuhan pangan dunia. Namun introduksi tersebut menjadi tidak terkontrol yang mengakibatkan ikan ini lepas ke perairan alami. Kemudian ikan ini berkembang biak dengan cepat di alam dan mendominasi.
Alasan ikan nila menjadi invasif di beberapa perairan air tawar Indonesia juga hampir sama dengan spesies ikan invasif sebelumnya. Ikan nila memilki laju reproduksi yang sangat cepat dimana betina sudah dapat dipijah 4 -5 minggu sekali. Dalam satu kali bertelur saja, ikan nila betina yang dalam masa produktif dapat menghasilkan 1.000 - 1.500 butir telur atau larva. Selain itu, kemampuan adaptasi ikan nila juga lebih unggul dari ikan lokal dimana ikan ini mampu bertahan hidup pada berbagai kondisi kualitas air, suhu dan bahkan lingkungan dengan kadar oksigen yang ekstrim. Begitupun dengan karakter makannya, ikan nila juga memakan hampir segala makanan yang tersedia yang itu juga dimakan oleh spesies lokal.
Menurut laman kompasiana.com ikan nila telah menginvasi Sungai Brantas dan mulai menjadi ancaman bagi spesies ikan lokal. Hal ini adalah ancaman nyata Ekologi yang harus sesegera mungkin mendapat perhatian. Sungai Brantas sendiri dihuni oleh banyak sekali spesies lokal dan endemik mengingat sungai ini adalah sungai terpanjang ke - 2 di Pulau Jawa. Salah satunya adalah Ikan Sengkaring, ikan lokal asli Sungai Brantas yang Berdasarkan laman malangkota.go.id keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan di alam liar. Salah seorang anggota OPA DIAZ yang juga merupakan senior saya bernama Muhammad Fauzi - D. 139176 Elang Bondol, berkata :
"dulu waktu saya kecil, cari ikan sengkaring itu lumayan mudah, artinya populasinya banyak. sekarang sulit.. lha wong selain karena limbah, orang - orang kadang ngawur ikan - ikan yang bukan ikan sungai brantas dilepas disitu, ikan nila kan bukan ikan brantas. seharusnya, kalau mau melepas ikan biar ikan di brantas itu banyak ya harus riset dulu, gak ngawur.
Kita bahas dikit ya soal ikan sengkaring ini.
Ikan sengkaring sebenarnya adalah ikan dari genus Tor yang di Sungai Brantas terdiri dari 2 spesies utama yakni Tor tambroides dan Tor Soro. Ikan ini bisa menjadi indikator kualitas air karena hanya ditemukan di kondisi air jernih seperti di mata air. Uniknya, ikan sengkaring Tor soro kerapkali di kaiitkan oleh masyarakat sebagai jelmaan Pasukan Majapahit yang dikutuk sehingga menjadi ikan keramat dan dilarang untuk dibunuh atau ditangkap di beberapa mata air. Namun, adanya mitos seperti itu dengan masyarakat indonesia yang suka dengan hal - hal mistis saya rasa cukup membantu upaya konservasi.
Tor tambroides - Sumber : wikipedia.id
Tor soro - Sumber : mongabay.co.id
Tidak hanya soal Ekologis dampak dari invasi ikan alien ini, tapi juga soal ekonomi. Ikan nila hasil budidaya dengan yang hasil tangkapan liar memiliki harga yang hampir atau sama. Bahkan, ikan nila hasil budadaya bisa lebih bernilai ekonomis karena ukurannya yang lebih besar dari yang hidup di alam liar. Para nelayan tradisional akan merugi jika tangkapannya didominasi ikan nila, karena ikan lokal yang jumlahnya sedikit itu bisa lebih mahal.
Mungkin cukup kita membahas Alien Invasif di Indonesia yang sebenarnya masih banyak lagi. Kita belum menyebutkan beberapa invasi alien lain seperti : ikan arapaima, aligator gar, ikan bawal, kura - kura brazil, katak lembu dan tanaman seperti Merremia peltata, Acacia nilotica, eceng gondok, kiambang, lantana, kirinyuh serta putri malu dan masih banyak lagi. Namun, membahasnya satu persatu akan membuat artikel yang sudah panjang ini lebih panjang lagi. Akan tetapi, menurut saya dengan membahas 3 alien diatas sudah cukup mewakili jeritan spesies lokal dan kerentanan ekologi alam Indonesia di era sekarang.
BAB IV - UPAYA PENANGGULANGAN
Tentang "apa yang bisa kita lakukan" menurut Syafei dan Sudinno (2018) dalam jurnalnya disebutkan bahwa tedapat dua tahapan yakni pencegahan dan pengendalian. Tahapan pencegahan yang perlu dilakukan adalah membangun persamaan persepsi dari semua pemangku kebijakan, pelaku perikanan dan masyarakat perikanan. Karena mencegah akan selalu lebih baik dan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan mengendalikan spesies alien yang ternyata sudah masuk dalam suatu ekosistem. Setelah itu, maka simultan dengan kegiatan tersebut adalah menginformasikan berbagai spesies alien yang digolongkan kedalam kelompok invasif.
Bila dikemudian hari, diperlukan introduksi spesies asing untuk suatu tujuan tertentu maka harus dicermati dan dilakukan riset terutama pada aspek - aspek biologisnya. Hal tersebut meliputi kebiasaan makan dan makanannya, predator atau bukan dan tingkat kesehatan ikannya yakni pembawa parasit atau virus atau bukan. Setelah hal - hal diatas dicermati dengan baik maka dapat diputuskan spesies tersebut dapat diintroduksikan atau tidak.
Sedangkan upaya pengendalian sendiri dari 3 metode yang disebutkan oleh Syafei dan Sudinno (2018) yakni pengendalian kimiawi, pengendalian mekanik dan pengendalian hayati. Pengendalian kimiawi adalah upaya dengan menggunakan bahan kimia yang efektif namun beresiko bagi spesies lokal bahkan manusia. Pengendalian mekanik adalah metode manual yakni pemindahan spesies alien invasif atau juga dapat dengan merubah kondisi habitat. Sedangkan penaggulangan hayati adalah dengan mendatangkan predator atau musuh alaminya. Namun, apapun metodenya harus dilakukan secara berkelanjutan dan hal ini sangat sulit dari yang dibayangkan.
Pengendalian mekanik memang seringkali sukses, namun membutuhkan SDM dan biaya yang mahal. Teknik ini harus dilakukan berulang secara konsisten karena hanya dengan satu kali perlakuan saja tidak akan cukup merubah kondisi untuk jangka waktu yang lama. Pasti akan ada beberapa spesies target yang lolos dari penangkapan lalu bertelur lagi, menjalani skilus yang sama dan menjadi masalah lagi. Begitupula dengan metode hayati yang dianggap sebagai cara paling ramah lingkungan, metode ini masih memiliki resiko dimana introduksi spesies baru juga dapat menjadi invasif di masa yang akan datang.
Penangkapan dan pemusnahan masal dehadap ikan sapu - sapu adalah cara yang termasuk dalam metode mekanik. Tindakan ini, sampai artikel ini ditulis masih dilakukan oleh para relawan - relawan berhati mulia di DAS ciliwung. Mereka rela masuk "nyemplung" ke sungai tanpa peduli tubuhnya kotor untuk tujuan yang mulia bagi lingkungan. "Do'a dari penulis untuk kalian".

Pembasmian ikan sapu - sapu di Kali Cideng, Jakarta Pusat - Sumber rctiplus.com
Lalu bila kita cermati lagi, mungkin anda akan bertanya : "kenapa harus dimusnahkan, kenapa tidak diolah saja ?" bagi penulis ini adalah pertanyaan yang menarik.
Sayangnya, tidak semua spesies alien invasif aman untuk dikonsumsi. Mungkin beberapa spesies bisa seperti ikan nila, red devil dan beberapa jenis spesies lainnya yang hidup di lingkungan bersih. Beberapa ikan invasif terkususnya yang memiliki tolenransi limbah yang tinggi seperti ikan sapu - sapu sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi. Aksari dkk, (2015) melaporkan kandungan logam berat pada ikan sapu - sapu yang hidup di DAS Ciliwung sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena ikan sapu - sapu hidup pada lingkungan yang tinggi cemaran limbah. Kandungan logam berat pada makanan sangat berpotensi menimbukan masalah kesehatan dan yang paling ngeri adalah "kangker". Jadi, sebenarnya bisa kita konsumsi jika lingkungan dimana makhluk itu tinggal bebas dari polutan, bahkan ikan sapu - sapu premium di beberapa tempat diolah untuk konsumsi. Adapun alternatif lainnya yang saya temukan yakni beberapa spesies seperti ikan red devil kerap kali diolah untuk pakan ternak.
BAB V - EPILOG
Jika kita memahami pengertian dari spesies lokal/natif pada bagian prolog di atas, apakah itu berarti spesies alien bisa menjadi spesies lokal ?. Jawabannya adalah "tidak". Memang pengertian dari spesies lokal/ natif adalah spesies yang telah menjadi bagian dari sebuah ekosistem sejak sangat lama, dan tidak semua spesies alien dapat berpotensi menjadi invasif. Namun, spesies alien yang telah lama tinggal dan kemudian menjadi bagian dari ekosistem lokal seperti tikus hitam sebelumnya ,tidak dapat dikatakan spesies lokal sepenuhnya. Mereka akan menyandang gelar sebagai spesies naturalisasi. Jadi, mau bagaimanapun spesies alien itu tidak akan dapat merubah jati dirinya, melainkan hanya akan bergeser sedikit.
Invasi alien sudah banyak memakan korban populasi dan kita tidak bisa melawan mereka dengan modal AK - 47 atau senjata - senjata mematikan lainnya. Tapi, kita bisa mencegah mereka datang dan membuat kerusakan dan itu adalah cara yang lebih mudah. Senjata kita yang pertama adalah "kesadaran" yakni kesadaran akan kelestarian ekosistem mulai dari yang ada disekitar kita. Sungai di samping rumah, halaman atau kebun, dan lingkungan di sekitar kita bukanlah tanggungjawab satu dua pihak melainkan semua orang termasuk anda.
Maka, penulis disini menekankan pentingnya "IQRO" atau bacalah, cermati segala keputusan sebelum melakukan. Karena seringkali invasi suatu spesies alien berasal dari keputusan kecil yang terlihat tidak memiliki dampak besar. Ikan red devil misalnya, salah satu alasan mengapa ikan red revil bisa berada di perairan dan menjadi invasif adalah pelepasan secara sengaja oleh oknum pemelihara. Alasannya bisa bermacam - macam, bisa jadi karena si pemelihara ikan yang sudah tidak mampu menampung ikannya lebih lama lagi namun tidak tega membiarkan ikannya mati sehingga dilepas di sungai. Hal semacam ini nyatanya sering kita lihat, seperti seseorang yang melepaskan kucingnya dipasar yang justru membuat populasi kucing liar semakin membeludak atau kura - kura brazil yang belum sempat kita singgung di BAB IV sebelumnya.
"jadi melepas kucing ke pasar juga salah ?"
Mungkin kita perlu membahasnya di artikel selanjutnya, tapi tentu saja praktik itu tidak dapat dikatakan benar. Melepas liarkan kucing domestik dapat menimbulkan beberapa masalah. Hal yang kita kira adalah cara paling manusiawi mengingat di pasar sudah jelas banyak makanan justru dapat dinilai kurang bijaksana. Jika kucing domestik kita lepasliarkan, maka laju reprosuksinya akan tidak terkontrol lalu dapat membahayakan kesehatan manusia, lingkungan dan lebih buruknya ekologi. Kotoran kucing di tempat yang populasinya sudah meledak dapat menggaggu dan menebarkan penyakit pada manusia serta sifat predator yang kucing tidak hanya memakan tikus, tapi burung - burung lokal juga. Selain itu, bagi pecinta kucing yang hendak melepas liarkan kucingnya sebaiknya merenungi ini "jika aku lepas kucingku ke pasar, lalu dia beranak, maka tidak hanya 1 yang aku telantarkan namun anak - anaknya juga". Jadi, jika memang harus melepasnya pastikan kucing sudah di kebiri atau steril atau sebaiknya berikan pada penampungan hewan bila ada.
Terakhir, ada satu hal lagi yang ingin penulis sampaikan dan ini bersumber dari salah satu channel youtube bernama alam semenit. Mungkin anda harus menonton channel youtubenya, bahkan saya sendiri pada artikel ini beberapa mengambil kutipan darinya. Yang ingin penulis sampaikan adalah sedikit renungan untuk kita semua yaitu, jangan pernah menganggab bahwa bumi yang kita tinggali ini diwariskan oleh nenek moyang, melainkan kita meminjam darinya, dari siapa ? tentu dari anak cucu kita. Kita meminjam bumi ini dari anak cucu kita, dan kelak kita harus mengembalikannya.
Sekian dari penulis, semoga artikel ini cukup bermanfaat dan membuka mata hati banyak orang termasuk saya sendiri. Penulis sadari bahwa, artikel ini masih memiliki banyak kekurangan bahkan saya sendiri tidak mengerti apakah artikel ini cukup enak dibaca atau mudah dipahami. Tapi atas dukungan dari banyak sekali pihak membuat semangat saya dalam menulis tidak pernah padam. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun supaya menjadi bahan evaluasi untuk artikel - artikel selanjutnya. Penulis ucapkan Terimakasih.
VIVA DIAZ
DAFTAR PUSTAKA
Aksari, Y.D., Perwitasari, D. and Butet, N.A., 2015. Kandungan logam berat (Cd, Hg, dan Pb) pada ikan sapu-sapu, Pterygoplichthys pardalis (Castelnau, 1855) di Sungai Ciliwung [Concentration of heavy metals (Cd, Hg, and Pb) of amazon sailfin catfish, Pterygoplichthys pardalis (Castelnau, 1855) in Ciliwung River West Java]. Jurnal Iktiologi Indonesia. 15(3): 257-266.
Anonymous. 2026. Ikan Sapu – sapu : Si Invasif Yang Merusak Alam dan Mengancam Kesehatan Kita. Diakses pada 25 September 2026. Dari digitani.ipb.ac.id
Bidang Komunikasi dan Informasi Publik. 2025. Tanam Pohon dan Tebar Benih Ikan Tutup Rangkaian Muskomwil IV ke – 13 Apeksi. Diakses pada : 25 September 2026. Dari malangkota.go.id
Darwin, C. 1964. On the Origin of Species : A Facsimile of The First Edition. Cambridge : Havard University.
Hafidz, A.M. and sil Vallen, F., 2024. Kehadiran ikan invasif Nila Tilapia Oreochromis niloticus (Perciformes: cichlidae) di kepulauan Belitung, Indonesia. Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau. 9(1): 1-7.
KSU UMJ Editor. 2024. Keuntungan dan Kerugian Akibat Ikan Invasif di Sungai Ciliwung. Diakses pada24 Seeptember 2026. Dari umj.ac.id
Nisrina, N., Islam, M.Y. and Anitasari, N., 2026. Faktor Dominasi Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys Sp.) Sebagai Spesies Invasif: Adaptasi Dan Bioakumulasi Logam Berat. Jurnal Ilmiah Penalaran dan Penelitian Mahasiswa. 10(1): 31-54.
Pysek, P., Hulme, P. E., Simberloff, D., Bacher, S., Blackburn, T. M., Carlton, J. T., Dawson, W., Essl, F., Foxcroft, L. C., Genovesi, P. and Jeschke, J. M. 2020. Scinentist' Warning on Invasive Alien Species. Biological Riviews. 95(6) : 1511 - 1534.
Rahmadi, R. 2026. Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal. Diakses pada 25 September 2026. Dari mongabay.ac.id
Ramadhanu, D., Luhulima, M.Y., Alfian, R.A., Miftahudin, A., Hafidz, A.K., Prananda, M., Putri, S., Aprianto, Y., Nugroho, R.A., Saputra, A. and Sabri, A. 2023. Catatan Pertama Ikan Invasif Nila Tilapia Oreochromis Niloticus (Perciformes: Cichlidae) Di Pulau Bangka, Indonesia. Journal of Aquatropica Asia. 8(1): 17 – 23.
Saul, W. C., Roy, H. E., Booy, O., Carnevali, L., Chen, H.J., Genovesi, P., Harrower, C. A., Hulme, P. E., Pagad, S., Pergl, J. and Jeschke, J. M. 2017. Assessing Patterns in Introductionaal Pathways of Alien Species by Linking Major Invasion Data Bases. Journal of Applied Ecology. 54(2) : 657 - 669.
Syafei, L.S. and Sudinno, D., 2018. Ikan asing invasif, tantangan keberlanjutan biodiversitas perairan. Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan. 12(3): 149-165.
Tim Infografik Kompas. 2026. Tak Mudah Menyapu Sapu – sapu. Diakses pada 24 Septermber 2026. Dari Kompas.id
Umayanuha, U. M. 2026. Ancaman Spesies Invasif Terhadap Ekosistem Perairan di Sungai Brantas. Diakses pada 25 September 2026. Dari kompasiana.com
Viva DIAZ